Selasa, 15 Desember 2009

Pengaruh Beberapa Cara Bioproses dengan Menggunakan Probiotik Starbio terhadap Komposisi zat Makanan dan Nilai Energi Metabolis Onggok Hasil Bioprose

Ella Hendalia *

Intisari

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa cara bioproses menggunakan probiotik Starbio pada onggok basah terhadap kandungan zat makanan dan nilai energi metabolis onggok hasil bioproses.

Perlakuan yang diterapkan terdiri atas enam cara bioproses (fermentasi) menggunakan probiotik Starbio pada onggok basah yaitu F0 ( onggok tanpa difermentasi ), F3 ( fermentasi aerob selama 3 hari), F7 ( fermentasi anaerob selama 7 hari), F7U ( fermentasi anaerob selama 7 hari dengan penambahan urea, F3E4TR (fermentasi aerob selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerob selama 4 hari) dan F3E4T45 ( Fermentasi aerob selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerob selama 4 hari pada suhu 45 0C). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Sampel dianalisis kandungan zat makanannya dengan analisis proksimat, sedangkan nilai energi metabolis ditentukan menurut metode Sibbald dengan menggunakan ayam broiler jantan umur 6 minggu. Data dianalisis dengan sidik ragam dan untuk melihat perbedaan antar perlakuan digunakan uji jarak berganda Duncan (DMRT).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap kandungan protein kasar (P<0,01), abu (P<0,01), Energi Bruto (P<0,01) dan Energi Metabolis (AME, AMEn, TME dan TMEn) (P<0,05), namun tidak berpengaruh terhadap kandungan serat kasar onggok hasil bioproses. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bioproses menggunakan probiotik Starbio dapat meningkatkan nilai nutrisi onggok. Nilai energi metabolis tertinggi diperoleh pada perlakuan F3E4T45, yaitu fermentasi aerob selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerob selama 4 hari pada suhu 45 0C, sedangkan kandungan protein tertinggi diperoleh pada perlakuan F7U, yaitu fermentasi secara anaerob selama 7 hari dengan menggunakan Probiotik Starbio ditambah urea.

Kata kunci: Probiotik Starbio, fermentasi, Tapioka waste, onggok, Energi metabolis

Abstract

The objective of the experiment was to investigate the effects of some bio-processes of fresh onggok (tapioka waste) using probiotics Starbio on the nutrient contents and metabolizable energy value.

There were six treatments of fermentation using probiotic Starbio, concist of F0 (onggok non fermented), F3 (3-days aerobicic fermenation), F7 (7-days anaerobic fermentation), F7U (7-days anaerobic fermentation using probiotic Starbio and urea), F3E4TR (3-days aerobic fermentation using probiotic Starbio proceeded by 4-days anaerobic incubation at room temperature) and F3E4T45 (3-days aerobic fermentation proceeded by 4-days anaerobic incubation at 45 ºC temperature), with three replications each. The samples were analyzed of it nutrient contents (Weende) and the metabolizable energy value were determined by using Broiler chickens of 6 weeks old according to the Sibbald methods. The data was analyzed by analysis of variance and individual means were compared by the Duncan Multipler Range Test (DMRT).

The result of this experiment showed that the treatment influenced the contents of crude protein (P<0,01), ash (P<0,05), Gross Energy (P<0,01) and the metabolizable energy value (AME, AMEn, TME and TMEn) (P<0,05). The content of crude fibre were not influenced by the treatment. In conclusion were the nutritive value of onggok could be increased by bio-process using probiotik Starbio. To get the highest ME value, F3E4T45 (3-day fermented proceeded by 4-day incubated at 45 ºC) is suggested to apply. But to get easier kind of bioproses and more protein content, the F7U (7-day anaerobic fermented using Starbio and urea) is recommended.

Key words: Probiotic Starbio, fermentation, Metabolizable Energy, Onggok

Pendahuluan

Perkembangan industri peternakan unggas di Indonesia dihadapkan pada suatu dilema, karena di satu sisi peningkatan produksi ternak menuntut peningkatan penyediaan pakan, namun disisi lain harga dan ketersediaan bahan pakan sering menjadi kendala bagi kelancaran usaha. Oleh karena itu penggalian potensi sumber daya pakan alternatif serta upaya perbaikan mutu pakan, perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ketersediaan pakan tersebut.

Onggok merupakan limbah industri tapioka yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak, bahkan limbah ini sering dibuang begitu saja sehingga mencemari lingkungan di sekitar pabrik. Pemanfaatan onggok untuk pakan ternak yang sudah umum dilakukan adalah dalam bentuk onggok kering, namun penggunaan produk ini khususnya pada ternak unggas masih sangat terbatas. Terbatasnya penggunaan onggok sebagai bahan pakan ternak unggas disebabkan oleh rendahnya kandungan protein (2.03 %) serta tingginya kandungan serat kasar (15.60 %) (Dasmardi, 1993). Onggok memiliki kandungan energi bruto (GE) yang tidak jauh berbeda dengan kandungan GE jagung, namun bila dilihat dari jumlah energi yang dapat dimetabolismekan (ME), nilai ME onggok nyata lebih rendah dibandingkan dengan jagung. Rendahnya nilai ME onggok disebabkan energi yang terkandung di dalam onggok berasal dari jenis karbohidrat yang memiliki struktur kompleks sehingga tidak dapat dicerna oleh ternak unggas. Untuk meningkatkan nilai nutrisi onggok, dalam hal ini adalah meningkatkan nilai energi yang dapat dimetabolismekan, perlu upaya untuk mengubah struktur kimia yang kompleks menjadi yang lebih sederhana sehingga pakan ini dapat dicerna lebih baik oleh ternak unggas.

Bioproses (fermentasi) dengan menggunakan probiotik Starbio (mikroba starter), dilaporkan dapat meningkatkan nilai energi metabolis onggok hasil bioproses. namun peningkatan energi metabolis tersebut ternyata masih belum dapat menyamai nilai energi metabolis jagung (Hendalia dkk. 1998; Hendalia, dkk. 2000). Terjadinya peningkatan nilai energi metabolis pada onggok hasil bioproses disebabkan probiotik Starbio kaya akan mikroba yang dapat meningkatkan derajat fermentasi serat, sehingga dapat memberikan sumber energi tersedia yang lebih tinggi (Suharto, 1995).

Melihat potensi onggok yang cukup besar serta melihat sifat-sifat yang dimiliki oleh probiotik Starbio, masih terbuka peluang untuk meningkatkan nilai nutrisi onggok melalui berbagai cara bioproses menggunakan probiotik Starbio. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh beberapa cara bioproses dengan menggunakan probiotik Starbio terhadap komposisi zat makanan dan nilai energi metabolis (ME) onggok hasil bioproses. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui cara bioproses yang tepat untuk diterapkan dilapangan, sehingga limbah industri tapioka ini dapat digunakan sebagai pakan sumber energi yang dapat diandalkan.

Materi dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Percobaan tahap pertama adalah pengujian di laboratorium terhadap kandungan nutrien onggok sebelum dan setelah bioproses, sedangkan percobaan ke dua adalah pengujian secara biologis untuk menentukan nilai Energi Metabolis (AME, AMEn, TME dan TMEn) dengan menggunakan ayam broiler.

Pada penelitian ini digunakan onggok basah yang diperoleh dari pabrik Tapioka di Kabupaten Sarolangun, Probiotik Starbio produksi CV. Lembah Hijau jakarta dan ayam broiler jantan galur Hubbard umur 6 minggu sebanyak 20 ekor.

Bioproses

Teknik bioproses dilakukan dengan memodifikasi beberapa cara yang telah diterapkan oleh Hendalia (1998). Perlakuan yang diterapkan pada percobaan ini terdiri atas 6 cara fermentasi yaitu F0 (onggok tanpa difermentasi), F3 ( fermentasi aerobik selama 3 hari), F7 ( fermentasi anaerobik selama 7 hari), F7U ( fermentasi anaerobik selama 7 hari dengan penambahan urea 0,4%, F3E4TR (fermentasi aerobik selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerob selama 4 hari) dan F3E4T45 ( Fermentasi aerobik selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerob selama 4 hari pada suhu 45 0C). Onggok basah (dengan kadar air tertentu) dicampur dengan Probiotik Starbio sebanyak 0,25%, kemudian adonan ditempatkan dalam fermentor (kantung plastik) sesuai dengan perlakuan. Fermentasi aerobik dilakukan dengan cara memberi lubang pada fermentor sedangkan fermentasi dan inkubasi anaerobik dilakukan dengan cara memampatkan adonan di dalam kantung sehingga tidak ada udara di dalamnya. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil bioproses dikeringkan pada suhu 60 0 C selama 48 jam, kemudian diambil sampel untuk dianalisis kandungan GE dan kandungan nutriennya dengan analisis proksimat (metode Weende). Peubah yang diamati meliputi kandungan protein kasar, serat kasar, abu dan GE.

Pengukuran Nilai Energi Metabolis.

Pada percobaan ini dilakukan pengukuran nilai Energi metabolis semu (Apparent Metabolizable Energy atau AME), dan Energi Metabolis sejati sejati (True Metabolizable Energy atau TME) terhadap onggok sebelum dan setelah bioproses. Pada percobaan ini digunakan ayam pedaging jantan umur 6 minggu sebanyak 20 ekor. Teknik penentuan nilai Energi Metabolis dilakukan menurut metode Sibbald (Sibbald, 1989).

Data yang dihimpun meliputi jumlah konsumsi, jumlah ekskreta, kandungan GE bahan, kandungan GE ekskreta, Kandungan N bahan dan kandungan N Ekskreta dari setiap unit perlakuan. Selanjutnya data digunakan untuk menghitung nilai Energi Metabolis Semu (AME), nilai Energi Metabolis Semu terkoreksi dengan retensi nitrogen (AMEn), nilai Energi Metabolis Sejati (TME) dan nilai Energi Metabolis Sejati terkoreksi dengan retensi nitrogen (TMEn).

Hasil dan pembahasan

Pengaruh perlakuan terhadap komposisi nutrien onggok hasil bioproses

Data rataan komposisi zat makanan onggok sebelum dan sesudah bioproses dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan komposisi zat makanan onggok sebelum dan setelah bioproses

Perlakuan

Komposisi zat makanan

Protein kasar

(%)

Serat kasar

(%)

Abu

(%)

GE

kal/g

F0 (kontrol)

2.89a

14.73a

1.21a

3837.37a

F3

3.54b

15.53ab

1.90b

4071.01ab

F7

3,14ab

15.18ab

1.85b

3555,24a

F7U

4,82c

13,55a

1.62b

4086,01b

F3E4TR

3.20ab

17.93b

1.89b

4164.74b

F3E4T45

3.25ab

15.68ab

1.85b

4554.98c

Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P < 0,05)

Berdasarkan data yang tercantum pada Tabel 1. terlihat bahwa bioproses dengan menggunakan probiotik Starbio menyebabkan terjadinya perubahan kandungan nutrien onggok. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa bioproses memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan protein kasar dan energi bruto, nyata (P<0,05) terhadap kandungan abu, namun tidak nyata (P>0,05) terhadap kandungan serat kasar. Terjadinya perubahan komposisi nutrien diduga karena selama bioproses terjadi perkembangbiakan mikroba asal Starbio serta dihasilkannya enzim-enzim yang dapat mengubah senyawa pada media menjadi produk - produk fermentasi. Seperti yang dikemukakan oleh Stanburry dan Whitaker (1984), bahwa dalam fermentasi akan dihasilkan sel mikroorganisme atau biomassa, enzim mikrobial, metabolit mikrobial dan perubahan senyawa substrat fermentasi

Mengamati hasil yang diperoleh dalam percobaan ini terlihat bahwa pada umumnya bioproses dengan menggunakan probiotik Starbio dapat meningkatkan kandungan protein kasar, abu dan energi bruto. Namun bila diamati dari peningkatan kandungan protein kasar dan energi bruto serta penurunan serat kasar secara simultan, terlihat bahwa perlakuan yang dapat memperbaiki komposisi nutrien onggok, adalah perlakuan F7U (onggok yang difermentasi dengan Starbio dan urea secara anaerob selama tujuh hari).

Perlakuan lainnya seperti pada perlakuan F3 (onggok yang difermentasi dengan Starbio secara aerob selama tiga hari) walaupun secara nyata mengalami peningkatkan kandungan protein kasar, namun tidak diikuti oleh peningkatan yang nyata dari kandungan energi bruto. Sebaliknya perlakuan F3E4TR (onggok hasil fermentasi F3 yang dilanjutkan dengan inkubasi enzimatik selama 4 hari pada suhu ruangan) dan F3E4T45 (onggok hasil fermentasi F3 yang dilanjutkan dengan inkubasi enzimatik selama 4 hari pada suhu 45o C), walaupun mengalami peningkatan kandungan energi bruto secara nyata, namun tidak nyata mengalami peningkatan kandungan protein kasar. Kandungan serat kasar pada perlakuan ini tidak menunjukkan adanya penurunan dan bahkan terjadi peningkatan. Hasil ini berbeda dengan hasil yang dilaporkan oleh Apnizal (1997) yang mendapatkan bahwa onggok yang difermentasi dengan Starbio selama 2 hari secara nyata mengalami penurunan kandungan serat kasar.

Terjadinya peningkatan kandungan protein pada onggok hasil bioproses diduga selain disebabkan oleh dihasilkannya produk-produk fermentasi juga disebabkan oleh adanya Starbio yang ditambahkan ke dalam media. Starbio mengandung protein kasar 10,42%, lemak 0,11%, serat kasar 8,37% dan abu 51,54% ( CV. Lembah Hijau). Sedangkan peningkatan kandungan protein kasar yang mencolok pada perlakuan F7U diduga karena adanya kontribusi urea yang berperan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan sel mikroba.

Bioproses pada perlakuan F3ETR dan F3E4T45 menunjukkan adanya penurunan kandungan protein kasar dibandingkan dengan perlakuan F3. Hal ini diduga karena selama masa inkubasi enzimatik, protein yang sudah terbentuk selama fermentasi aerobik akan terdegradasi kembali akibat adanya aktivitas enzimatik, khususnya proteolitik. Sejalan dengan yang dilaporkan oleh Hendalia dkk. (1998), bahwa perpanjangan waktu inkubasi enzimatik dari 2 hari menjadi 4 hari dapat menurunkan kandungan protein onggok hasil bioproses.

Pengaruh perlakuan terhadap nilai energi metabolis onggok hasil bioproses

Data nilai energi metabolis semu (AME), nilai energi metabolis semu yang dikoreksi dengan nitrogen (AMEn), nilai energi metabolis sejati (TME) dan nilai energi metabolis sejati yang dikoreksi dengan nitrogen (TMEn) disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengaruh bioproses terhadap nilai AME, AMEn, TME dan TMEn

Perlakuan

Nilai energi metabolis (kal/g)

AME

AMEn

TME

TMEn

F0

2543.03a

2662.61a

2976.43a

3131.93a

F3

2522.88a

2624.40a

2965.76a

3103.99a

F7

2208,11a

2332,27a

2660,24a

2821.87a

F7U

2672,10a

2750.40a

3129.82a

3246.06a

F3E4TR

2707.74a

2796.98a

3152.12a

3278.20a

F3E4T45

3280.03b

3361.56b

3713.47b

3830.93b

Keterangan: Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap nilai energi metabolis (AME, AMEn, TME dan TMEn) onggok hasil bioproses. Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa perlakuan F3E4T45 memiliki nilai energi metabolis yang nyata (P<0,05) lebih tinggi baik dibandingkan dengan kontrol (F0) maupun dibandingkan dengan perlakuan kainnya. Sementara antara perlakuan F0, F3, F7, F7U dan F3E4TR memiliki nilai energi metabolis yang saling tidak berbeda nyata.

Tingginya nilai ME pada perlakuan F3E4T45 sejalan dengan tingginya kandungan GE onggok pada perlakuan tersebut. Bila dilihat dari kandungan GE pada pembahasan terdahulu, terlihat bahwa perlakuan F7U dan F3E4TR memiliki GE yang nyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol (F0), namun dilihat dari nilai ME yang diperoleh, ternyata kedua perlakuan tersebut memiliki nilai ME yang relatif sama dengan F0. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa tingginya kandungan energi bruto (GE) pada perlakuan F7U dan F3E4TR tidak diikuti oleh peningkatan jumlah energi yang dapat dimetabolismekan. Hal ini menunjukkan bahwa pada kedua perlakuan tersebut akan lebih banyaknya energi terbuang, sehingga penggunaan energi atau energi yang dapat dimetabolismekan menjadi relatif berkurang.

Faktor yang menyebabkan relatif rendahnya penggunaan energi pada perlakuan F7U diduga sebagai akibat dari katabolisasi protein yang terbentuk pada onggok hasil bioproses. Protein kasar yang terdeteksi pada F7U diduga tidak dapat digunakan oleh tubuh, sehingga akan dikatabolisasi dan diekskresikan dalam bentuk asam urat. Menurut Larbier dan Leclerco (1994) bila protein ransum dikatabolisasi, maka akan ada energi terbuang bersamaan dengan sisa nitrogen yang diekskresikan (asam urat). Adanya energi terbuang dalam asam urat ini secara langsung akan mengurangi nilai ME .

Berbeda halnya dengan perlakuan F3E4TR, faktor yang menyebabkan tidak adanya peningkatan penggunaan energi pada perlakuan ini diduga berhubungan dengan terjadinya peningkatan kandungan serat kasar pada onggok hasil bioproses. Dari pembahasan terdahulu dapat dilihat bahwa serat kasar pada perlakuan F3E4TR mengalami peningkatan dari 14,73% (F0) menjadi 17,93%. Serat kasar dapat mengurangi kecernaan sehingga secara langsung akan mengurangi jumlah energi yang dapat dimetabolismekan. Hasil ini berbeda dengan yang dinyatakan oleh Suharto (1995), bahwa penggunaan probiotik di dalam pakan dapat meningkatkan derajat fermentasi serat sehingga dapat memberikan sumber energi tersedia yang lebih tinggi. Adanya perbedaan dengan pendapat Suharto (1995) diduga karena kondisisi fermentasi, khususnya suhu inkubasi enzimatis pada perlakuan F3E4TR tidak sesuai dengan suhu yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme sehingga enzim yang dihasilkan tidak terlihat fungsinya dalam mengubah senyawa substrat. Hal ini terbukti dari perlakuan F3E4T45 dengan suhu inkubasi enzimatis 45o C menunjukkan peningkatan nilai ME secara sangat nyata (P<0,01) baik dibandingkan dengan F0, F3E4TR, maupun perlakuan lainnya.

Terjadinya peningkatan nilai energi metabolis pada perlakuan F3E4T45 selain disebabkan oleh peningkatan kandungan GE onggok juga diduga tidak terlepas dari kesesuaian suhu inkubasi sehingga aktivitas enzim yang dihasilkan selama bioproses terlihat peranannya dalam meningkatkan derajat fermentasi serat. Seperti yang dikemukakan oleh Suharto (1995), bahwa penggunaan probiotik di dalam pakan dapat meningkatkan derajat fermentasi serat sehingga dapat memberikan sumber energi tersedia yang lebih tinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil bioproses dengan menggunakan probiotik dalam percobaan ini dapat dikemukakan bahwa fermentasi secara aerob selama 3 hari (F3) tidak dapat meningkatkan nilai ME onggok. Fermentasi yang dilakukan secara anaerob selama 7 hari (F7) dapat menyebabkan penurunan nilai ME walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan dengan F0. Penambahan urea pada fermentasi anaerob selama 7 hari (F7U) dapat meningkatkan nilai ME secara tidak nyata. Bioproses yang dilakukan 2 tahap yaitu fermentaasi secara aerob selama 3 hari yang dilanjutkan dengan inkubasi selama 4 hari menunjukkan adanya peningkatan nilai ME, namun peningkatan yang nyata hanya diperoleh bila inkubasi dilakukan pada suhu 45o C (F3E4T45). Inkubasi enzimatik pada suhu ruang (F3E4TR) tidak mampu meningkatkan nilai ME secara nyata.

Nilai energi metabolis onggok hasil bioproses dalam percobaan ini relatif berbeda dengan hasil penelitian Apnizal (1997) yang memperoleh nilai energi metabolis 2666,81 kal/g untuk AME; 2759,47 kal/d untuk AMEn; 3849,09 untuk TME; dan 4061,21 kal/g untuk TMEn pada onggok yang difermentasi dengan menggunakan Starbio secara semi anaerob selama 2 hari. Hasil percobaan ini juga menghasilkan nilai energi metabolis yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil penelitian Zainir (1997) yang mendapatkan nilai AME 2478,82 kal/g; AMEn 2255,64 kal/g; TME 3548,37 kal/g dan TMEn 3325,19 kal/g pada onggok yang difermentasi dengan Aspergillus niger.

Berdasarkan hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa untuk menghasilkan nilai energi metabolis yang paling tinggi dapat dilakukan bioproses dengan cara seperti pada perlakuan F3E4T45, namun bila dikehendaki kandungan protein onggok yang juga lebih tinggi serta praktis dalam penerapannya di lapangan, maka bioproses yang dapat disarankan adalah seperti pada perlakuan F7U.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bioproses menggunakan probiotik Starbio dapat meningkatkan nilai nutrisi onggok hasil bioproses. Nilai energi metabolis tertinggi diperoleh pada perlakuan F3E4T45, yaitu fermentasi aerobik selama 3 hari dilanjutkan dengan inkubasi anaerobik selama 4 hari pada suhu 45 0C, sedangkan kandungan protein tertinggi diperoleh pada perlakuan F7U, yaitu fermentasi secara anaerob selama 7 hari dengan menggunakan Probiotik Starbio ditambah urea.

Daftar Pustaka

Apnizal. 1997. Nilai Energi Metabolis Onggok Fermentasi Pada Ayam Broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.

Dasmardi, 1993. Pengaruh sebagian jagung dengan onggok dalam ransum terhadap retensi bahan kering dan energi termetabolismekan pada ayam pedaging. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Haryanto, B, K. Dwiyanto, Isbandi danSuharto. 1994. Effect of probiotic supplement on the growth and carcass yield of sheep. Proceediong of the VIIth AAP Animal Science Congress Volume II. Denpasar Bali. Indonesia.

Hendalia, E., A. Latief dan Adrizal. 1998. Upaya peningkatan nilai nutrisi onggok basah melalui bioproses menggunakan probiotik Starbio. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas jambi. Jambi.

Hendalia E., Mairizal dan Nelwida. 2000. Penggunaan Onggok Hasil Bioproses dengan Menggunakan Probiotik Starbio dan Suplementasi Metionin dan Lisin dalam Ransum Ayam Broiler. Laporan Penelitian. Fakultas peternakan Universitas Jambi.

Larbier, M and B. Leclerco. 1994. Nutrition and Feeding of Poultry. Translated and edited by J. Wiseman. Nottingham University Press, Leicestershire, UK.

Leeson S. And Summers, J.D. 1991. Commercial poultry Nutrition. University Books. Guelph, Ontario, canada.



* Staf Pengajar pada Fakultas Peternakan Universitas Jambi

PENGARUH SUPLEMENTASI RUMPUT MUTIARA (HEDYOTIS CORYMBOSA) DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT KARKAS AYAM BROILER

[Supplementation Effect of Pearl Grass (Hedyotis corymbosa) on Carcass Weight of Broiler]

Nelwida*, Ella Hendalia, Resmi, Ucop Haroen

Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi

Abstract

The experiment was conducted to evaluate the effect of pearl grass (Hedyotis corymbosa) supplementation into the ration on the carcass weight of broiler. The experiment was carried out at the Laboratory of Poultry and Non Ruminant Nutrition, Department of Animal Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Husbandry, University of Jambi. The study used 2-day of broiler chicken strain MB 202 which fed basal ration supplemented with pearl grass (Hedyotis corymbosa). The study was assigned by Completely Randomized Design into 5 treatments and 4 replications. The treatments were the level of pearl grass supplementation, concist of M0 (0%, as control), M1 (0,2%), M2 (0,4%), M3 (0,6%) and M4 (0,8%). The variables observed were feed intake, live weight, carcass weight and carcass percentage. Data were analyzed by analysis of variance and the individual means were compared by the Duncan Multipler Range Test (DMRT). The result of this study showed that the supplementation of pearl grass was significantly (P<0,05) increase the feed intake, but had not significant effect on the live weight, carcass weight and carcass percentage. Based on the experiment, it was concluded that pearl grass supplementation into the broiler ration could be implemented up to 0.8%, however to get the highest carcass weight and carcass percentage, level 0,6% is recommended.

Keywords: broiler, carcass weight, carcass percentage, Hedyotis corymbosa, pearl grass.

Pendahuluan

Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di halaman, lapangan atau semak-semak dan tumbuh secara alami sebagai rumput-rumputan. Tanaman ini sering dimakan oleh ternak, terutama ayam kampung yang berkeliaran di halaman. Ternyata tanaman ini mengandung senyawa aktif anti mikroba (Nurhayati dkk (2006) sehingga tanaman ini berpotensi untuk digunakan sebagai feed additive pengganti antibiotik.

Dewasa ini, penggunaan antibiotik sebagai feed additive pada industri ternak unggas telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat (konsumen), karena antibiotik yang pada mulanya hanya digunakan untuk terapi atau dicampurkan ke dalam ransum dalam dosis minimal, saat ini telah digunakan secara berlebihan untuk memacu pertumbuhan ternak. Sebagai akibat dari penggunaan antibiotik yang tidak terkendali maka banyak ditemukan produk ternak berupa daging dan telur yang beredar di pasaran mengandung residu antibiotik di atas ambang batas yang diizinkan. Selain menghasilkan residu, penggunaan antibiotik secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik pada ternak.

Adanya resistensi Salmonella sp terhadap antibiotik pada ayam telah dilaporkan oleh Ivanov (2003), dan resistensi Salmonella sp terhadap antibiotik pada itik telah dilaporkan oleh Istiana (1997). Hasil penelitian Ivanov (2003) menunjukkan bahwa resistensi Salmonella terhadap antibiotik persentasenya cukup besar (Ampicilin 86,7%, Amoxcylin 82,1%, Lincomycin 88,3% dan Erytromycin 76,4%). Demikian pula dari hasil penelitian Istiana (1997), terbukti bahwa dari 70 isolat Salmonella typhimurium yang ditemukan, yang resisten terdap ampisilin adalah sebesar 30%, neomisin 12,8%, tetrasiklin 11,4%, streptomisin 8,6%, trimetropin 7,1% dan kloramfenikol 5,7%. Data ini menunjukkan bahwa beberapa preparat antibiotik sudah kehilangan efektifitasnya dan cenderung menimbulkan resistensi mikroba yang semakin meluas.

Upaya untuk mengatasi adanya residu antibiotik dalam daging ternak unggas ataupun resistensi mikroba atau penyakit lainnya terhadap pengobatan dengan antibiotika adalah dengan mengurangi penggunaan obat obat sintetis (kimia murni) dan lebih memilih untuk menggunakan obat alami (Hargono, 1986). Oleh karena itu penelitian untuk mendapatkan bahan alami yang dapat berperan sebagai pakan tambahan pengganti antibiotik perlu terus dikembangkan, diantaranya adalah rumput mutiara (Hedyotis corymbosa).

Nurhayati dkk. (2006) telah berhasil mendeteksi aktivitas antibakteri dalam rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) terhadap bakteri E.coli, staphylococcus aureus, shygella disentriae, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella sp dengan konsentrasi hambat minimum berkisar dari 2 sampai 8 μg/ml atau 0,2 – 0,8%. Namun dari hasil penelitian tersebut masih belum jelas senyawa aktif kelompok apa yang memiliki kemampuan ini dan bagaimana dampaknya bila tanaman ini diberikan kepada ternak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rumput mutiara dapat digunakan sebagai feed additive dalam ransum ayam broiler serta bagaimana pengaruh penggunaannya terhadap pertumbuhan dan bobot karkas yang dihasilkan .

Metode Penelitian

Materi Penelitian

Pada penelitian ini digunakan 100 ekor anak ayam broiler strain MB 202 umur 2 hari yang diberi ransum basal dengan perlakuan suplementasi beberapa level rumput mutiara selama enam minggu. Ransum basal terdiri atas campuran jagung kuning, poles (polished), tepung ikan, bungkil kedele, top mix, mineral mix dan dicalcium phosphat. Komposisi bahan pakan dan zat makanan dalam ransum basal dapat dilihat pada pada Tabel 1. Rumput mutiara (akar, batang, daun, buah dan bunga) dikumpulkan dari berbagai tempat di kota Jambi, disortir dari kotoran dan warna yang telah menguning, lalu dikering anginkan hingga kering udara dan digiling sehingga menjadi tepung. Tepung rumput mutiara dapat dicampurkan langsung kedalam ransum sesuai perlakuan. Komposisi zat makanan dalam Rumput Mutiara dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Komposisi Bahan Pakan dan Zat Makanan dalam Ransum Basal (%)

Bahan Makanan

Fase Awal (0-3 minggu)

Fase Akhir (3-6 minggu)

Jagung kuning

50.50

55.50

Polish

15.00

17.00

Bungkil kedele

20.00

15.00

Tepung ikan

10.00

8.00

Dikalsium fosfat

1.00

1.00

Minyak sawit

1.00

1.00

Garam dapur

0.50

0.50

Vitamin mineral mix

0.50

0.50

Methionin

0.25

0.25

Tepung tulang

1.25

1.25

Total

100.00

100.00

Zat Makanan

Bahan Kering (%)

86.88

86.98

Protein kasar (%)

20.62

17.97

Lemak kasar (%)

4.50

6.06

Serat kasar (%)

2.46

1.43

Abu (%)

8.09

8.67

BETN (%)

51.21

52.85

Tabel 2. Komposisi Zat Makanan dalam Rumput Mutiara

Zat Makanan

Rumput Mutiara

Bahan Kering (%)

86.97

Protein kasar (%)

11.85

Lemak kasar (%)

3.70

Serat kasar (%)

20.99

Abu (%)

16.60

BETN (%)

33.83

Pemeliharaan Ayam

Ayam yang baru datang diberi nomor kaki, lalu ditimbang untuk mengetahui bobot badan awal dan dimasukkan kedalam kandang koloni berukuran 100 x 80 x 60 cm yang telah dilengkapi dengan tempat pakan, tempat air minum dan lampu pemanas. Setiap kandang koloni diisi dengan 5 ekor anak ayam secara acak sesuai perlakuan. Pada awal pemeliharaan ayam diberi vitachick dan divaksinasi dengan vaksin ND pada umur 4 hari. Selanjutnya ayam tidak lagi diberi obat-obatan atau vaksin hingga akhir masa pemeliharaan yaitu selama 6 minggu.

Penimbangan bobot badan dilakukan seminggu sekali dan sebelum ditimbang ayam dipuasakan selama 8 jam. Pemotongan ayam dilakukan setelah 6 minggu pemeliharaan dengan mengambil 2 ekor ayam per unit perlakuan sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan memilih ayam yang bobotnya mendekati rataan. Ayam yang telah dipotong dibersihkan dan dipisahkan dari bagian-bagian non karkas, kemudian ditimbang untuk mendapatkan bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan taraf suplementasi rumput mutiara dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah suplementasi rumput mutiara ke dalam ransum basal yaitu M0: 100 % ransum basal tanpa rumput mutiara sebagai kontrol; M1: suplementasi 0,2% rumput mutiara; M2: suplementasi 0,4% rumput mutiara; M3: suplementasi 0,6% rumput mutiara dan M4: suplementasi 0,8% rumput mutiara

Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu konsumsi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan relatif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan untuk membandingkan rataan antar perlakuan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1980).

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum

Data rataan konsumsi ransum ayam broiler yang diberi perlakuan selama 6 minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Pengaruh Suplementasi Rumput Mutiara terhadap Rataan Konsumsi Ransum ayam broiler selama 6 minggu

Taraf Suplementasi Rumput Mutiara

Konsumsi ransum

M0 ( 0% )

77,23b

M1 (0,2%)

86,08a

M2 (0,4%)

83,24a

M3 (0,6%)

84,19a

M4 (0,8%)

81,59ab

Keterangan:: huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara secara nyata dapat meningkatkan konsumsi ransum (P<0,05). Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa suplemetasi rumput mutiara pada taraf 0,2% (M1) sampai 0,6% (M3) menghasilkan rataan konsumsi ransum yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (M0), namun konsumsi ransum tersebut cenderung menurun kembali mendekati M0 bila taraf penggunaannya ditingkatkan menjadi 0,8%. Hasil ini memberikan indikasi bahwa rumput mutiara mampu meningkatkan selera makan pada ayam broiler dan peningkatan selera makan terlihat lebih efektif pada taraf penggunaan rumput mutiara 0,2 – 0,6% dibandingkan dengan 0,8%. Terjadinya peningkatan konsumsi ransum pada penelitian ini membuktikan bahwa rumput mutiara tidak mengandung senyawa anti nutrisi yang bersifat racun bagi ternak. namun Menurut Larbier dan Leclercq (1994) beberapa senyawa sekunder dalam tanaman yang bersifat racun memiliki rasa pahit dan aroma yang tidak disukai ternak sehingga dapat menurunkan konsumsi ransum. Rumput mutiara selain mengandung senyawa aktif yang bersifat sebagai antimikroba seperti iridoid (Sudarsono (1999), tannin, flavonoid, phenol dan sterol (Anonimous, 2004; 2005) juga mengandung senyawa aktif dari golongan senyawa aromatic seperti quinon (Naim, 2004). Adanya beberapa senyawa aktif dalam rumput mutiara diduga turut berperan dalam mempertahankan kesehatan ternak serta meningkatkan aktivitas metabolik di dalam tubuh sehingga berdampak pada peningkatan konsumsi ransum.

Peningkatan taraf rumput mutiara sampai 0,8 % tidak memberikan hasil yang lebih baik dari taraf penggunaan yang lebih rebdah (0,2-0,6%). Hal ini menunjukkan bahwa senyawa aktif yang terkandung dalam rumput mutiara hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dan bila berlebih justru akan menimbulkan dampak negatif bagi ternak. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nurhayati dkk (2006) yang melaporkan bahwa ekstrak rumput mutiara mulai menunjukkan keaktifannya sebagai agen antimikroba umumnya pada konsentrasi lebih atau sama dengan 0,4%.

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif

Data rataan bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif ayam broiler yang dipelihara selama 6 minggu dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif

Paramater

Perlakuan

M0

M1

M2

M3

M4

Bobot Potong

(g/ekor)

1804,79

1820,19

1702,81

1704,66

1708,38

Bobot Karkas Mutlak (g/ekor)

1284,99

1311,64

1199,99

1411,15

1216,88

Bobot Karkas Relatif

(%)

71,13

71,98

70,45

72,55

71,05

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara kedalam ransum sampai taraf 0,8% tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif. Sekalipun tidak terdapat pengaruh yang signifikan, data yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara di atas 0,2% menyebabkan terjadinya penurunan bobot potong (P>0,05), namun penurunan bobot potong ini tidak selalu diikuti oleh penurunan bobot karkas. Bila diamati dari data Tabel 4 terlihat bahwa suplementasi rumput mutiara pada taraf 0,6% (M3) menghasilkan bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif yang paling tinggi, padahal bobot potong pada perlakuan ini relatif rendah. Berdasarkan hasil ini terdapat indikasi bahwa penurunan bobot potong pada ayam yang diberi rumput mutiara pada taraf 0,6% (M3) bukan disebabkan oleh penurunan bobot karkas, tetapi lebih disebabkan oleh penurunan bobot komponen-komponen non karkas. Sebagaimana diketahui bahwa karkas merupakan bobot tubuh ayam setelah dkurangi dengan darah, bulu, organ tubuh bagian dalam (jeroan) kecuali ginjal dan paru paru, kepala dan kaki. Menurut Rose (1997), bahwa bagian non karkas, termasuk jeroan pada umumnya akan meningkat seiring dengan meningkatnya bobot badan.

Secara teoritis, bobot potong akan berbanding lurus dengan bobot karkas yang dihasilkan. Semakin tinggi bobot potong maka akan semakin berat bobot karkas yang dihasilkan dan sebaliknya. Namun hasil penelitian ini menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana bobot potong yang rendah pada perlakuan M3 justru menghasilkan bobot karkas yang paling tinggi. Tingginya bobot karkas pada perlakuan M3 erat kaitannya dengan tingginya konsumsi ransum pada perlakuan tersebut. Hal ini berarti bahwa peningkatan konsumsi ransum pada perlakuan M3 lebih banyak digunakan untuk menunjang pertumbuhan karkas dibanding dengan non karkas.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini terdapat indikasi bahwa senyawa aktif dalam rumput mutiara selain berperan dalam meningkatkan efisiensi pencernaan dan penyerapan zat makanan juga berperan dalam meningkatkan aktivitas metabolisme, dalam hal ini adalah sintesis komponen karkas dan bukan komponen non karkas. Seperti yang dilaporkan oleh Nurhayati (2006) bahwa rumput mutiara mengandung senyawa aktif sebagai agen anti mikroba. Dengan demikian suplementasi rumput mutiara diduga dapat menghambat perkembangan mikroba patogen di dalam saluran pencernaan sehingga penggunaan dan penyerapan zat makanan dapat diperbaiki. Menurut Anonimous (2004), bahwa rumput mutiara mengandung sterol, falvonoid, tannin dan kumarin yang turut berperan dalam proses pencernaan dan penyerapan zat makanan (Naim, 2004). Demikian pula menurut Jamroz and Kamel (2002) bahwa peningkatan penampilan ternak dapat terjadi karena adanya efek sinergis dari senyawa aktif yang terkandung didalam tanaman obat tersebut terutama minyak esensial yang terkandung didalamnya yang dapat memperbaiki kecernaan zat makanan seperti protein, selulosa dan lemak dan kecernaan semu zat makanan didalam seluruh saluran pencernaan dan ileum (Hernandez et al., 2004).

Kesimpulan dan saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi rumput mutiara kedalam ransum ayam broiler dapat dilakukan sampai taraf 0,8% namun untuk mendapatkan bobot karkas tertinggi, suplementasi pada taraf 0,6% dapat direkomendasikan

Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan potensi rumput mutiara sebagai pemacu pertumbuhan unggas untuk menggantikan antibiotik dalam ransum serta mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya.

Daftar Pustaka

Anonimous. 2004. Rumput mutiara mengaktifkan sirkulasi darah. Republika 14 September 2004.

Anonimous. 2005. Tanaman obat Indonesia. Leaflet BPPT, Jakarta.

Hargono, J. 1996. Efek samping obat dari bahan alam lebih kecil daripada efek samping obat kimia murni. Cermin Dunia Farmasi 28: 9 – 12.

Hernandez, F., J. Madrid, V. Garcia, J. Orengo and M.D. Megias. 2004. Influence of Two Plant Extract on Broiler Performance, Digestibility and Digestive Organ Size. Poult. Sci. 83: 169 – 174.

Istiana. 1997. Resistensi Salmonella spp isolat itik Alabio terhadap beberapa antibiotik. Journal Ilmu Ternak dan veteriner. Vol 3.No 2. hal. 106-110. Pusat penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

Ivanov, I.E. 2003. A Balancing act – optimising the gut microflora. Poultry International, June 2003. 33-37..

Jamroz, D. and C. Kamel. 2002. Plant Extracts Enhance Broiler Performance. In Non Ruminant Nutrition: Antimicrobial Agents and Plant Extracts on Immunity, Health and Performance. J. Anim. Sci. 80 (E. Suppl. I), pp. 41.

Larbier, M. and B. Leclercq. 1994. Nutrition and Feeding of Poultry. University Press. Nottingham.

Naim, R. 2004. Senyawa antimikroba dari tanaman. Kompas edisi 15 September 2004.

NRC (National Research Council). 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National Academy of Science Washington.

Nurhayati, Madyawati Latief dan H. Handoko, 2006. Uji anti mikroba rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) terhadap beberapa mikroba penyebab utama penyakit pada ternak unggas (Antimicrobial test of pearl grass (Hedyotis corymbosa) on several microbes cause main diseases in poultry). Laporan Penelitian Fundamental. Dibiayai oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional dengan Surat Perjanjian Nomor 007/SP3/PP/DP2M/II/2006 Tanggal 1 Pebruari 2006.

Rose, S. P. 1997 Princuples of Poultry Science. CAB International.

Rusiana dan D.N. Iswarawanti. 2004. 85 % Daging ayam broiler mengandung antibiotik. Tabloid Senior No. 236/ Edisi 23 – 29 Januari 2004.

Steel, R.G.D. dan Torrie, J.H. 1980. Principle and procedures of statistics a biometrical approach (2nd Ed.) Mc. Grow-Hill book Company. Singapore.

Sudarsono. 1999. Asperulosid, senyawa iridoid Hedyotis corymbosa (L.)Lamk. (Oldenlandia corymbosa linn.), suku rubiaceae. Indonesian Journal of Pharmacy 10 (3).