Selasa, 15 Desember 2009

Efektifitas Penggunaan Asam Formiat dalam Meningkatkan Kualitas Protein Bulu Ayam sebagai Pakan Ayam Broiler

(The Effectiveness of Formic Acid to Increase the Protein Quality

of Feather Meal for Broiler Feed)

Ella Hendalia, Nurhayati, Resmi, Nelwida, Filawati

Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi

Abstrak

Suatu penelitian telah dilakukan untuk melihat efektifitas penggunaan asam formiat dalam meningkatkan kualitas protein bulu ayam serta melihat pengaruh penggunaan Hidrolisat Bulu Ayam (HBA) dalam ransum terhadap performan ayam broiler. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan HBA dalam ransum pada taraf 0%, 2%, 4% dan 6% untuk menggantikan tepung ikan. Sebanyak seratus ekor anak ayam didistribusikan secara acak ke dalam 4 perlakuan dengan 5 ulangan, masing-masing terdiri atas 5 ekor ayam. Feeding trial dilaksanakan selama 4 minggu. Peubah yang diamati yaitu konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan Bobot karkas Relatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hidrolisat bulu ayam secara nyata (P<0,05) style=""> Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa proses hidrolisis menggunakan larutan asam formiat tidak efektif dalam meningkatkan kualitas protein bulu ayam.

Kata kunci: asam formiat, ayam broiler, hidrolisat bulu ayam

Abstract

An experiment was conducted to determine the effectiveness of formic acid to increase the protein quality of feather meal (FM) and to evaluate the effect of using the hydrolyzed feather meal on the performance of broiler chickens. The treatment consisted of 4 levels of hydrolyzed feather meal in the diet (0%, 2%, 4% and 6%) to substitute for fish meal. The chickens were fed in four weeks. One hundred day old commercial MB-202 P chicks were randomly distributed into four units of treatment having five replicates of five birds in each unit.. Variables observed were feed intake, body weight gain, feed conversion ratio, slaughter weight, absolute carcass weight and relative carcass weight. The result of the experiment showed that the use of hydrolyzed feather meal had significant effect (P<0,05) style=""> feed conversion ratio, slaughter weight and carcass weight. Based on the experiment, it can be concluded that formic acid was ineffective to increase protein quality of hydrolyzed feather meal.

Key words: broiler chickens, formic acid, hydrolyzed feather meal

Pendahuluan

Bulu ayam merupakan limbah pemotongan ayam yang belum termanfaatkan secara optimal sebagai pakan unggas, padahal produksi limbah ini cukup melimpah dan tersebar luas hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Berdasarkan data Statistik Peternakan 2006, produksi daging ayam broiler di Indonesia mencapai 955 ribu ton/tahun. Bila diasumsikan sekitar 6-9% dari bobot ini adalah bulu, maka produksi limbah bulu ayam di Indonesia mencapai 57.300 – 85.950 ton/tahun. Bila limbah ini diolah menjadi tepung bulu, dengan penyusutan sekitar 48,9% (Kromo, 2005), maka estimasi produksi tepung bulu ayam (TBA) di Indonesia adalah sekitar 28 ribu – 42 ribu ton/tahun, atau setara dengan 76 – 115 ton/hari.

Ironisnya, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ransum di Indonesia, TBA masih harus diimpor dari negara lain. Berdasarkan data Subdit Penolakan Penyakit Menular Ditjennak Deptan, pada triwulan pertama tahun 2005 telah diimpor tepung bulu sebanyak 9.660,38 ton (kromo, 2005). Masih diimpornya TBA menunjukkan bahwa industri pengolahan tepung bulu ayam belum digarap secara optimal. Agar limbah ini tidak terbuang dengan sia-sia serta menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, maka upaya pemanfaatan dan pengolahan tepung bulu ayam perlu terus dilakukan.

Bulu ayam mengandung protein kasar yang sangat tinggi, yaitu 93,23% dalam bahan kering (Adriani,2006), namun protein tersebut tergolong ke dalam protein yang sulit dicerna. Rendahnya kecernaan protein pada bulu ayam disebabkan oleh tingginya kandungan keratin dan kuatnya ikatan disulfida pada asam aminonya. Oleh karena itu, sebelum digunakan sebagai bahan pakan, bulu ayam perlu dihidrolisis untuk meningkatkan kecernaan proteinnya.

Proses hidrolisis TBA dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu 1). secara fisik dengan menggunakan tekanan uap pada suhu tinggi (Boda, 1990), 2). secara kimia menggunakan larutan asam (HCl) atau basa (NaOH) (Kromo, 2005), 3). secara biologis menggunakan mikroorganisme (Ramli, dkk. 2002) atau 4). secara enzimatis menggunakan enzim protease spesifik pemecah keratin (Suntornsuk, dkk. 1999; Ramli dkk. 2002). Sekalipun banyak cara untuk menghidrolisis TBA, namun hasil yang diperoleh masih belum optimal untuk meningkatkan kecernaan proteinnya, disamping caranya yang kurang praktis untuk diterapkan di lapangan.

Masalah yang dihadapi oleh peternak dalam menerapkan teknik pengolahan bulu ayam adalah sulitnya mendapatkan bahan kimia dan autoclave yang diperlukan. Selain itu, penggunaan asam mineral seperti HCl dan H2SO4 jika berlebihan kurang dapat diterima oleh ternak (Jatmiko, 2002) serta perlu dinetralkan dengan menggunakan kalsium hidroksida atau kalsium karbonat (Perez, 1995). Untuk mengatasi permasalahan ini, akan lebih praktis bila digunakan asam organik seperti asam formiat.

Keuntungan penggunaan asam formiat dalam proses hidrolisis bulu ayam adalah produk yang dihasilkan tidak perlu dinetralkan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Selain itu, asam formiat (teknis) juga mudah didapat, murah harganya serta sudah dikenal luas oleh masyarakat petani sebagai cuka getah.

Proses hidrolisis bulu ayam dengan asam formiat pada prinsipnya relatif sama dengan proses hidrolisis pada pembuatan silase ikan. Selama proses hidrolisis, enzim proteolitik endogen akan memecah jaringan protein menjadi peptida dan asam amino dengan bobot molekul rendah yang tahan dan stabil (Green, Wiseman dan Cole dalam Perez (1995). Menurut Rustad (2002), penggunaan asam formiat normalnya adalah sekitar 2-3% dari bahan baku, kemudian disimpan pada suhu ruang hingga enzim endogen melarutkan atau menghancurkan bahan tersebut. Proses tersebut berlangsung sekitar 7 hari yang ditandai dengan hancurnya daging dan rapuhnya tulang sehingga bentuk akhir menjadi seperti bubur dan tidak berbau busuk (Jatmiko, 2002)

Berdasarkan pemikiran di atas, timbul dugaan bahwa proses hidrolisis dengan asam formiat dapat diaplikasikan untuk memutuskaan ikatan keratin dan ikatan disulfida pada asam amino bulu ayam sehingga protein yang terkandung didalam bulu tersebut menjadi lebih mudah dicerna. Untuk melihat apakah asam formiat mampu meningkatkan kualitas protein bulu ayam serta bagaimana efeknya bila diberikan kepada ternak perlu dikaji dalam suatu penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas penggunaan asam formiat dalam meningkatkan kualitas protein bulu ayam serta melihat pengaruh penggunaan Hidrolisat Bulu Ayam (HBA) dalam ransum terhadap performan ayam broiler.

Materi dan Metode

Materi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia selama 3 bulan. Pada penelitian ini digunakan limbah bulu ayam segar yang diperoleh dari tempat pemotongan ayam di pasar tradisional dan asam formiat teknis (cuka getah) yang dibelil di toko pertanian. Untuk feeding trial, digunakan 100 ekor ayam pedaging jantan. Kandang yang digunakan adalah kandang koloni berukuran sekitar 75 x 60 x 40 cm sebanyak dua puluh unit, setiap unit untuk 5 ekor ayam. Bahan-bahan penyusun ransum terdiri dari jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung tulang, jagung kuning, poles, Dikalsium Phosphat, tepung tulang, premix dan Hidrolisat Bulu Ayam.

Metode Penelitian

Proses Hidrolisis Bulu Ayam

Bulu ayam dicuci, kemudian ditiriskan dan dipotong-potong atau dicincang kemudian dimasukkan ke dalam wadah (ember plastik bertutup) lalu ditambahkan larutan asam formiat teknis 3% sampai semua bulu terrendam dan dibiarkan selama 7 hari agar terjadi proses hidrolisis. Agar proses hidrolisis dapat berlangsung secara merata, setiap hari dilakukan pengadukan sebanyak dua kali pada pagi dan sore hari. Untuk menyempurnakan proses hidrolisis, setelah dilakukan perendaman selama 7 hari, bulu ayam ditiriskan, lalu dilanjutkan dengan pengukusan selama satu jam. Selanjutnya hidrolisat bulu ayam dikeringkan di bawah sinar matahari dan digiling menjadi tepung untuk digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Hidrolisat bulu ayam di analisa dengan analisis proksimat untuk mengetahui kandungan bahan kering, protein kasar, serat kasar, lemak kasar dan abu.

Percobaan Pemberian Pakan (Feeding Trial)

Feeding trial dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan HBA terhadap performans dan retensi zat makanan pada ayam broiler. Perlakuan yang diterapkan dalam percobaan ini adalah taraf penggunaan HBA dalam ransum (0%, 2%, 4% dan 6%) untuk menggantikan tepung ikan.

Pada penelitian ini digunakan 100 ekor d.o.c yang ditempatkan secara acak kedalam 20 unit kandang kawat dan pada setiap unit perlakuan digunakan 5 ekor ayam. Ransum disusun berdasarkan kebutuhan ayam broiler (NRC, 1994). Komposisi bahan pakan dan zat makanan dalam ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.

Feeding trial dilaksanakan selama 4 minggu. Peubah yang diamati yaitu konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan relatif, serta retensi zat makanan ( bahan kering, bahan organik dan protein kasar),

Tabel 1. Komposisi Bahan Pakan dan Zat Makanan dalam Ransum Perlakuan (%)

Bahan Makanan

R0

R1

R2

R3

Jagung kuning

50.50

50.50

50.50

50.50

Polish

15.00

15.00

15.00

15.00

Bungkil kedele

20.00

20.00

20.00

20.00

Tepung ikan

10.00

8.00

6.00

4.00

Hidrolisat bulu ayam

0

2.00

4.00

6.00

Dikalsium fosfat

1.00

1.00

1.00

1.00

Minyak sawit

1.00

1.00

1.00

1.00

Garam dapur

0.50

0.50

0.50

0.50

Vitamin mineral mix

0.50

0.50

0.50

0.50

Methionin

0.25

0.25

0.25

0.25

Tepung tulang

1.25

1.25

1.25

1.25

Total

100.00

100.00

100.00

100.00

Zat Makanan

R0

R1

R2

R3

Bahan Kering (%)

85,05

85,14

85,22

85,31

Protein kasar (%)

20.67

21,14

21,61

22,08

Lemak kasar (%)

6,07

6,05

6,03

6,01

Serat kasar (%)

3,41

3,44

3,47

3,50

ME (kkal/kg)

2963,25

2954,05

2944,85

2935,65

Rancangan Penelitian dan Analisis Data

Pada percobaan ini digunakan rancangan acak lengkap terdiri atas 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diterapkan pada tahap ini adalah 4 taraf penggunaan HBA dalam ransum ayam pedaging yaitu 0%, 2%, 4% dan 6%. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan untuk membandingkan rataan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1980).

Hasil dan Pembahasan

Komposisi Zat Makanan Hidrolisat Bulu Ayam

Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Bulu Ayam Sebelum dan Sesudah Dihidrolisis (%BK)

Zat Makanan

TBA

HBA

Protein kasar (%)

96,34

88,00

Lemak kasar (%)

1,25

4,82

Serat kasar (%)

1,02

2,93

Abu (%)

0,87

0,71

Berdasarkan hasil analisis laboratorium terlihat bahwa proses hidrolisis dengan asam formiat dapat menyebabkan terjadinya perubahan komposisi zat makanan pada bulu ayam, terutama protein kasar, lemak kasar dan serat kasar. Pada Tabel 2. dapat dilihat bahwa hidrolisat bulu ayam (HBA) memiliki kandungan protein kasar yang lebih rendah dibandingkan dengan bulu ayam sebelum dihidrolisis (TBA). Sebaliknya kandungan lemak kasar dan serat kasar pada HBA terlihat lebih tinggi bila dibandingkan dengan TBA.

Penurunan kandungan protein kasar pada HBA menunjukkan bahwa selama proses hidrolisis, terdapat komponen protein yang terurai dan larut dalam larutan asam formiat, sehingga senyawa tersebut terbuang pada saat dilakukan penyaringan. Dengan adanya komponen protein yang terlarut dan terbuang bersama larutan asam formiat secara langsung akan mengurangi kandungan protein HBA. Seperti yang dinyatakan oleh Jatmiko (2002), bahwa penambahan asam formiat dalam pembuatan silase ikan dapat menghidrolisis ikatan protein menjadi peptida dan asam amino yang lebih mudah dicerna. Demikian pula menurut Rustad (2002), bahwa proses fermentasi dengan asam formiat dapat menghancurkan daging dan merapuhkan tulang ikan.

Berbeda dengan protein kasar, kandungan lemak kasar dan serat kasar pada HBA terlihat mengalami peningkatan. Meningkatnya persentase lemak kasar dan serat kasar pada HBA diduga karena terjadinya penyusutan massa dalam bahan kering akibat terlarutnya dan terbuangnya beberapa komponen zat makanan dalam larutan asam formiat. Dengan menyusutnya massa bahan kering, maka proporsi lemak dan serat kasar akan meningkat.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Adriani (2005) dan Leliyanti (2008). Adriani (2005), melaporkan bahwa hidrolisis bulu ayam dengan larutan enzim papain dan bromelin tidak menyebabkan terjadinya perubahan komposisi zat makanan secara berarti pada hidrolisat tepung bulu ayam. Demikian pula dari hasil penelitian Leliyanti (2008) terlihat bahwa bulu ayam yang dihidrolisis dengan daun pepaya hanya mengalami penurunan kandungan protein kasar sebanyak 0,57-4,68%. Adanya perbedaan ini disebabkan karena teknik hidrolisis yang dilakukan oleh kedua peneliti tersebut tidak menggunakan teknik perendaman seperti yang dilakukan pada penelitian ini, sehingga kecil kemungkinan adanya kehilangan komponen zat makanan bersama larutan .

Pengaruh Penggunaan Hidrolisat Bulu Ayam terhadap Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan dan konversi ransum

Data konsumsi ransum, pertambahan bobot badan (PBB) dan konversi ransum disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Penggunaan Hidrolisat Bulu Ayam (HBA) terhadap Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Ransum

Peubah yang diamati

Perlakuan

HBA-0%

HBA-2%

HBA-4%

HBA-6%

Konsumsi Ransum (gr/ekor/hr)

64,22a

62,41 a

59,50ab

55,74b

PBB (gr/ekor/hr)

38,64 a

37,09 a

31,63 b

30,86 b

Rataan Konversi Ransum

1,66 a

1,68 a

1,88 b

1,80 b

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada setiap baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05%)

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penggunaan bulu ayam yang dihidrolisis dengan asam formiat (HBA) sampai taraf 6% dalam ransum secara nyata (P<0,05) style=""> rataan pertambahan bobot badan (PBB) serta nyata (P<0,05) style="">

Pada Tabel 4. dapat dilihat bahwa semakin tinggi taraf penggunaan HBA akan menyebabkan terjadinya penurunan rataan konsumsi ransum dan penurunan yang nyata terjadi pada taraf penggunaan HBA 6%. Hasil penelitian ini memberi indikasi bahwa penggunaan bulu ayam yang dihidrolisis dengan asam formiat hanya dapat ditolerir oleh ternak sampai taraf 4%, dan pada taraf penggunaan yang lebih tinggi akan menghambat konsumsi ransum. Penurunan konsumsi ransum pada penelitiaan ini diduga berkaitan dengan terjadinya perubahan tekstur ransum dan ketahanannya terhadap proses pencernaan. Semakin tinggi taraf penggunaan HBA menyebabkan ransum menjadi amba (bulky) sekalipun kandungan serat kasar ransum hanya berkisar 3,41-3,50%. Demikian pula dengan kecernaan ransum, semakin tinggi taraf penggunaan HBA akan membuat ransum menjadi lebih sulit dicerna sehingga akan mempengaruhi laju pengosongan lambung. Seperti yang dilaporkan oleh Hendalia (2005), bahwa tepung bulu ayam (TBA) memiliki kecernaan bahan kering (KCBK) in vitro yang sangat rendah, yaitu 21,87%, sedangkan TBA yang dihidrolisis dengan enzim papain dan bomelin memiliki KCBK masing-masing 27,27% dan 26,99%.

Berdasarkan data pertambahan bobot badan, terlihat bahwa HBA hanya efektif digunakan pada taraf 2%. Menurut Boda (1990), TBA yang dihidrolisis menggunakan autoclave dapat digunakan sekitar 4-6% dalam ransum yang mengandung protein kasar 20%. Pada penelitian ini, penggunaan HBA 4%, sekalipun akan menghasilkan konsumsi ransum yang sama dengan kontrol, namun secara nyata akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih rendah (P<0,05). Rendahnya pertambahan bobot badan yang dihasilkan diduga akibat defisiensi beberapa asam amino pada HBA. Menurut Leeson and Summer (1997), tepung bulu ayam merupakan sumber sistin dan protein kasar yang baik, namun penggunaannya dibatasi oleh rendahnya kandungan beberapa asam amino termasuk metionin, lisin dan histidin.

Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa penggunaan HBA 2% akan menghasilkan rataan konversi ransum yang relatif sama dengan kontrol (HBA 0%), namun pada taraf penggunaan HBA 4% dan HBA 6% akan menghasilkan rataan konversi ransum yang lebih tinggi (P<0,05). Meningkatnya angka konversi ransum pada penggunaan HBA 4% dan HBA 6% secara tidak langsung disebabkan oleh terjadinya ketidakseimbangan asam amino di dalam ransum perlakuan, sehingga protein yang dikonsumsi oleh ternak tidak dapat dialokasikan secara proporsional untuk menunjang pertumbuhan. Namun demikian, angka konversi ransum yang dihasilkan pada penelitian ini jauh lebih baik dibandingkan dengan angka konversi ransum pada penggunaan bulu ayam yang dihidrolisis dengan larutan enzim papain dan bromelin, yaitu sekitar 2,00 – 2,18 (Adriani, 2006) serta bulu ayam yang dihidrolisis menggunakan daun pepaya, yaitu 2,13 – 2,20 (Leliyanti, 2008)

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong dan Bobot Karkas

Data bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Penggunaan Hidrolisat Bulu Ayam terhadap Bobot Potong, Bobot Karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif

Peubah yang diamati

Perlakuan

HBA-0%

HBA-2%

HBA-4%

HBA-6%

Bobot potong (gr/ekor)

1166,30a

1102,70b

957,12c

957,12 c

Bobot Karkas Mutlak (gr/ekor)

823,54 a

770,52 b

658,40 c

638,89 c

Bobot Karkas Relatif (%)

70,60 a

69,89ab

68,74 b

68,22 b

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada setiap baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata

(P<0,05%)

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penggunaan bulu ayam yang dihidrolisis dengan asam formiat dalam ransum secara nyata (P<0,05) style="">

Berdasarkan data yang tercantum pada tabel 4. dapat dilihat bahwa penurunaan bobot potong dan bobot karkas mutlak sudah terlihat secara nyata pada taraf penggunaan HBA 2% (P<0,05), style=""> Hasil ini menunjukkan bahwa bulu ayam yang dihidrolisis dengan asam formiat memiliki kualitas protein yang rendah, sehingga pada taraf penggunaan 2% sudah menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ternak. Rendahnya kualitas protein tepung bulu ayam selain disebabkan oleh kecernaannya yang rendah juga disebabkan oleh defisiensi asam amino seperti metionin, lisin, histidin dan triptopan (Scott et all. 1982; Wang dan Parsoms 1997). Seperti yang dilaporkan oleh Hendalia (2005), bahwa tepung bulu ayam yang dihidrolisis dengan larutan enzim papain dan bromelin memiliki kecernaan protein kasar (KCPK) in vitro yang sangat rendah, yaitu 15,23 – 16,82%. Rendahnya kecernaan protein kasar yang diperparah dengan defisiensi beberapa asam amino, akan menghambat pertumbuhan ternak, yang tercermin dari rendahnya bobot potong dan bobot karkas yang dihasilkan.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini mmembuktikan bahwa penggunaan asam formiat tidak efektif untuk meningkatkan kualitas protein bulu ayam, terutama untuk memutuskaan ikatan keratin dan ikatan disulfida pada asam amino bulu ayam. Fakta ini sejalan dengan yang dilaporkan oleh Boda (1990), bahwa dari berbagai cara yang pernah diteliti, cara yang paling efektif untuk memecah ikatan kimia dari keratin adalah hidrolisis bulu ayam dengan menggunakan autoclave/ tekanan uap selama satu jam. Demikian pula hasil yang dilaporkan oleh Steiner et al. (1983), bahwa kecernaan protein kasar bulu ayam akan menurun secara sangat nyata dengan meningkatnya konsentrasi NaOH atau H3PO4.

Kesimpulan dan Saran

Disimpulkan bahwa hidrolisis dengan larutan asam formiat 3% tidak efektif dalam meningkatkan kualitas protein bulu ayam.

Disarankan bahwa penelitian tentang upaya peningkatan kualitas protein bulu ayam perlu diiringi dengan upaya menutupi defisiensi asam-asam amino dalam hidrolisat bulu ayam.

Daftar Pustaka

Adriani. R. 2006. Pengaruh Penggunaan Tepung Bulu Ayam yang Dihidrolisa dengan Larutan Enzim Papain dan Bromelin dalam Ransum terhadap Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Boda, K. 1990. Nonconventional Feedstuffs in the Nutrition of Farm Animal. Elsevier. Amsterdam.

Elkin, R.G. 2002. Nutritional components of feedstuffs; a qualitative chemical appraisal of protein. Ed. McNab dan Boorman. Poultry Feedstuffs, Supply, Composisition and Nurtitive value. Poultry Science Symposium Series. Vol 25. CAB International. England.

Hendalia, E. 2005. Efektifitas Penggunaan Larutan Enzim Papain dan Bromelin dalam Meningkatkan Kecernaan dan Retensi Protein Tepung Bulu Ayam. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. Vol. VIII. No.4 Edisi November 2005. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Jatmiko, Y.A.B. 2002. Teknologi dan aplikasi Tepung Silase Ikan. Program Pasca Sarjana - Institut Pertanian Bogor

Kromo, 2005. Gelitik Industri Tepung Bulu. Majalah Poultry Indonesia edisi 308. Desember 2005. hal 48 – 49

Leeson, S. dan J.D. Summers. 1997. Commercial Poultry Nutrition. Second Ed.. Department of Animal and Poultry Science. University of Guelph. University Books. Guelph., Ontario, Canada

Leliyanti, 2008. Pengaruh penggunaan tepung bulu ayam yang dihidrolisis dngan daun pepaya dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

Lilburn, M.S. 1996. Ingredient quality and its impact on digestion and digestion and absorption in poultry. Journal of Applied Poultry Research 5.

Machin, D.H. 1995. The potential use of tropical silage for livestock production, with special reference to smallholders. http://www.fao.org/DOCREP/005/X8486E/ x8486e0j.htm

National Research Council 1994. Nutrition Requirement of Poultry National Academy of Science. Washington D.C.

Papadopoulos, M.C., A.R. Boushy dan B.H. Katelnar. 1985. Effect of different processing conditions on amino acid digestibility of feather meal detemined by chickens assay. Poultry Sci. 64: 1729-1741.

Parsons, C.M. 2002. Digestibility and bioavailability of amino acids dalam McNab dan Boorman. Poultry Feedstuffs, Supply, Composisition and Nurtitive value. Poultry Science Symposium Series. Vol 25. CAB International. England.

Perez, R. 1995. Fish silage for feeding livestock. World Animal Review. http://www.fao.org/DOCREP/V44400T/v4440T0d.htm

Ramli, N., Sumiati, S. Ahdiarto, dan T. Sonjaya. Retensi Nitrogen Tepung Bulu Ayam terhadap Broiler. 2002. Panduan Seminar dan abstrak Pengembangan Peternakan Berbasis sumber daya lokal.

Rasyaf, 1997. Penyajian Makanan Ayam petelur. Kanisius. Yogyakarta.

Rustad, T. 2003. Utilisation of Marine By-Products. Electron. J. Environ. Agric. Food Chem. (EJEAFChe, 2 (4). 458-463.

Scott., M.L., M.C. Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrition of the Chickens. Third Edition. ML. Scott & Associated, Ithaca, New York.

Statistik Peternakan. 2006. Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta

Steel, G.D. and Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Edisi kedua. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Tidak ada komentar: