Selasa, 15 Desember 2009

PENGARUH SUPLEMENTASI RUMPUT MUTIARA (HEDYOTIS CORYMBOSA) DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT KARKAS AYAM BROILER

[Supplementation Effect of Pearl Grass (Hedyotis corymbosa) on Carcass Weight of Broiler]

Nelwida*, Ella Hendalia, Resmi, Ucop Haroen

Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi

Abstract

The experiment was conducted to evaluate the effect of pearl grass (Hedyotis corymbosa) supplementation into the ration on the carcass weight of broiler. The experiment was carried out at the Laboratory of Poultry and Non Ruminant Nutrition, Department of Animal Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Husbandry, University of Jambi. The study used 2-day of broiler chicken strain MB 202 which fed basal ration supplemented with pearl grass (Hedyotis corymbosa). The study was assigned by Completely Randomized Design into 5 treatments and 4 replications. The treatments were the level of pearl grass supplementation, concist of M0 (0%, as control), M1 (0,2%), M2 (0,4%), M3 (0,6%) and M4 (0,8%). The variables observed were feed intake, live weight, carcass weight and carcass percentage. Data were analyzed by analysis of variance and the individual means were compared by the Duncan Multipler Range Test (DMRT). The result of this study showed that the supplementation of pearl grass was significantly (P<0,05) increase the feed intake, but had not significant effect on the live weight, carcass weight and carcass percentage. Based on the experiment, it was concluded that pearl grass supplementation into the broiler ration could be implemented up to 0.8%, however to get the highest carcass weight and carcass percentage, level 0,6% is recommended.

Keywords: broiler, carcass weight, carcass percentage, Hedyotis corymbosa, pearl grass.

Pendahuluan

Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di halaman, lapangan atau semak-semak dan tumbuh secara alami sebagai rumput-rumputan. Tanaman ini sering dimakan oleh ternak, terutama ayam kampung yang berkeliaran di halaman. Ternyata tanaman ini mengandung senyawa aktif anti mikroba (Nurhayati dkk (2006) sehingga tanaman ini berpotensi untuk digunakan sebagai feed additive pengganti antibiotik.

Dewasa ini, penggunaan antibiotik sebagai feed additive pada industri ternak unggas telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat (konsumen), karena antibiotik yang pada mulanya hanya digunakan untuk terapi atau dicampurkan ke dalam ransum dalam dosis minimal, saat ini telah digunakan secara berlebihan untuk memacu pertumbuhan ternak. Sebagai akibat dari penggunaan antibiotik yang tidak terkendali maka banyak ditemukan produk ternak berupa daging dan telur yang beredar di pasaran mengandung residu antibiotik di atas ambang batas yang diizinkan. Selain menghasilkan residu, penggunaan antibiotik secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik pada ternak.

Adanya resistensi Salmonella sp terhadap antibiotik pada ayam telah dilaporkan oleh Ivanov (2003), dan resistensi Salmonella sp terhadap antibiotik pada itik telah dilaporkan oleh Istiana (1997). Hasil penelitian Ivanov (2003) menunjukkan bahwa resistensi Salmonella terhadap antibiotik persentasenya cukup besar (Ampicilin 86,7%, Amoxcylin 82,1%, Lincomycin 88,3% dan Erytromycin 76,4%). Demikian pula dari hasil penelitian Istiana (1997), terbukti bahwa dari 70 isolat Salmonella typhimurium yang ditemukan, yang resisten terdap ampisilin adalah sebesar 30%, neomisin 12,8%, tetrasiklin 11,4%, streptomisin 8,6%, trimetropin 7,1% dan kloramfenikol 5,7%. Data ini menunjukkan bahwa beberapa preparat antibiotik sudah kehilangan efektifitasnya dan cenderung menimbulkan resistensi mikroba yang semakin meluas.

Upaya untuk mengatasi adanya residu antibiotik dalam daging ternak unggas ataupun resistensi mikroba atau penyakit lainnya terhadap pengobatan dengan antibiotika adalah dengan mengurangi penggunaan obat obat sintetis (kimia murni) dan lebih memilih untuk menggunakan obat alami (Hargono, 1986). Oleh karena itu penelitian untuk mendapatkan bahan alami yang dapat berperan sebagai pakan tambahan pengganti antibiotik perlu terus dikembangkan, diantaranya adalah rumput mutiara (Hedyotis corymbosa).

Nurhayati dkk. (2006) telah berhasil mendeteksi aktivitas antibakteri dalam rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) terhadap bakteri E.coli, staphylococcus aureus, shygella disentriae, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella sp dengan konsentrasi hambat minimum berkisar dari 2 sampai 8 μg/ml atau 0,2 – 0,8%. Namun dari hasil penelitian tersebut masih belum jelas senyawa aktif kelompok apa yang memiliki kemampuan ini dan bagaimana dampaknya bila tanaman ini diberikan kepada ternak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rumput mutiara dapat digunakan sebagai feed additive dalam ransum ayam broiler serta bagaimana pengaruh penggunaannya terhadap pertumbuhan dan bobot karkas yang dihasilkan .

Metode Penelitian

Materi Penelitian

Pada penelitian ini digunakan 100 ekor anak ayam broiler strain MB 202 umur 2 hari yang diberi ransum basal dengan perlakuan suplementasi beberapa level rumput mutiara selama enam minggu. Ransum basal terdiri atas campuran jagung kuning, poles (polished), tepung ikan, bungkil kedele, top mix, mineral mix dan dicalcium phosphat. Komposisi bahan pakan dan zat makanan dalam ransum basal dapat dilihat pada pada Tabel 1. Rumput mutiara (akar, batang, daun, buah dan bunga) dikumpulkan dari berbagai tempat di kota Jambi, disortir dari kotoran dan warna yang telah menguning, lalu dikering anginkan hingga kering udara dan digiling sehingga menjadi tepung. Tepung rumput mutiara dapat dicampurkan langsung kedalam ransum sesuai perlakuan. Komposisi zat makanan dalam Rumput Mutiara dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Komposisi Bahan Pakan dan Zat Makanan dalam Ransum Basal (%)

Bahan Makanan

Fase Awal (0-3 minggu)

Fase Akhir (3-6 minggu)

Jagung kuning

50.50

55.50

Polish

15.00

17.00

Bungkil kedele

20.00

15.00

Tepung ikan

10.00

8.00

Dikalsium fosfat

1.00

1.00

Minyak sawit

1.00

1.00

Garam dapur

0.50

0.50

Vitamin mineral mix

0.50

0.50

Methionin

0.25

0.25

Tepung tulang

1.25

1.25

Total

100.00

100.00

Zat Makanan

Bahan Kering (%)

86.88

86.98

Protein kasar (%)

20.62

17.97

Lemak kasar (%)

4.50

6.06

Serat kasar (%)

2.46

1.43

Abu (%)

8.09

8.67

BETN (%)

51.21

52.85

Tabel 2. Komposisi Zat Makanan dalam Rumput Mutiara

Zat Makanan

Rumput Mutiara

Bahan Kering (%)

86.97

Protein kasar (%)

11.85

Lemak kasar (%)

3.70

Serat kasar (%)

20.99

Abu (%)

16.60

BETN (%)

33.83

Pemeliharaan Ayam

Ayam yang baru datang diberi nomor kaki, lalu ditimbang untuk mengetahui bobot badan awal dan dimasukkan kedalam kandang koloni berukuran 100 x 80 x 60 cm yang telah dilengkapi dengan tempat pakan, tempat air minum dan lampu pemanas. Setiap kandang koloni diisi dengan 5 ekor anak ayam secara acak sesuai perlakuan. Pada awal pemeliharaan ayam diberi vitachick dan divaksinasi dengan vaksin ND pada umur 4 hari. Selanjutnya ayam tidak lagi diberi obat-obatan atau vaksin hingga akhir masa pemeliharaan yaitu selama 6 minggu.

Penimbangan bobot badan dilakukan seminggu sekali dan sebelum ditimbang ayam dipuasakan selama 8 jam. Pemotongan ayam dilakukan setelah 6 minggu pemeliharaan dengan mengambil 2 ekor ayam per unit perlakuan sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan memilih ayam yang bobotnya mendekati rataan. Ayam yang telah dipotong dibersihkan dan dipisahkan dari bagian-bagian non karkas, kemudian ditimbang untuk mendapatkan bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan taraf suplementasi rumput mutiara dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah suplementasi rumput mutiara ke dalam ransum basal yaitu M0: 100 % ransum basal tanpa rumput mutiara sebagai kontrol; M1: suplementasi 0,2% rumput mutiara; M2: suplementasi 0,4% rumput mutiara; M3: suplementasi 0,6% rumput mutiara dan M4: suplementasi 0,8% rumput mutiara

Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu konsumsi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan relatif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan untuk membandingkan rataan antar perlakuan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1980).

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum

Data rataan konsumsi ransum ayam broiler yang diberi perlakuan selama 6 minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Pengaruh Suplementasi Rumput Mutiara terhadap Rataan Konsumsi Ransum ayam broiler selama 6 minggu

Taraf Suplementasi Rumput Mutiara

Konsumsi ransum

M0 ( 0% )

77,23b

M1 (0,2%)

86,08a

M2 (0,4%)

83,24a

M3 (0,6%)

84,19a

M4 (0,8%)

81,59ab

Keterangan:: huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara secara nyata dapat meningkatkan konsumsi ransum (P<0,05). Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa suplemetasi rumput mutiara pada taraf 0,2% (M1) sampai 0,6% (M3) menghasilkan rataan konsumsi ransum yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (M0), namun konsumsi ransum tersebut cenderung menurun kembali mendekati M0 bila taraf penggunaannya ditingkatkan menjadi 0,8%. Hasil ini memberikan indikasi bahwa rumput mutiara mampu meningkatkan selera makan pada ayam broiler dan peningkatan selera makan terlihat lebih efektif pada taraf penggunaan rumput mutiara 0,2 – 0,6% dibandingkan dengan 0,8%. Terjadinya peningkatan konsumsi ransum pada penelitian ini membuktikan bahwa rumput mutiara tidak mengandung senyawa anti nutrisi yang bersifat racun bagi ternak. namun Menurut Larbier dan Leclercq (1994) beberapa senyawa sekunder dalam tanaman yang bersifat racun memiliki rasa pahit dan aroma yang tidak disukai ternak sehingga dapat menurunkan konsumsi ransum. Rumput mutiara selain mengandung senyawa aktif yang bersifat sebagai antimikroba seperti iridoid (Sudarsono (1999), tannin, flavonoid, phenol dan sterol (Anonimous, 2004; 2005) juga mengandung senyawa aktif dari golongan senyawa aromatic seperti quinon (Naim, 2004). Adanya beberapa senyawa aktif dalam rumput mutiara diduga turut berperan dalam mempertahankan kesehatan ternak serta meningkatkan aktivitas metabolik di dalam tubuh sehingga berdampak pada peningkatan konsumsi ransum.

Peningkatan taraf rumput mutiara sampai 0,8 % tidak memberikan hasil yang lebih baik dari taraf penggunaan yang lebih rebdah (0,2-0,6%). Hal ini menunjukkan bahwa senyawa aktif yang terkandung dalam rumput mutiara hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dan bila berlebih justru akan menimbulkan dampak negatif bagi ternak. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nurhayati dkk (2006) yang melaporkan bahwa ekstrak rumput mutiara mulai menunjukkan keaktifannya sebagai agen antimikroba umumnya pada konsentrasi lebih atau sama dengan 0,4%.

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif

Data rataan bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif ayam broiler yang dipelihara selama 6 minggu dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif

Paramater

Perlakuan

M0

M1

M2

M3

M4

Bobot Potong

(g/ekor)

1804,79

1820,19

1702,81

1704,66

1708,38

Bobot Karkas Mutlak (g/ekor)

1284,99

1311,64

1199,99

1411,15

1216,88

Bobot Karkas Relatif

(%)

71,13

71,98

70,45

72,55

71,05

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara kedalam ransum sampai taraf 0,8% tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif. Sekalipun tidak terdapat pengaruh yang signifikan, data yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi rumput mutiara di atas 0,2% menyebabkan terjadinya penurunan bobot potong (P>0,05), namun penurunan bobot potong ini tidak selalu diikuti oleh penurunan bobot karkas. Bila diamati dari data Tabel 4 terlihat bahwa suplementasi rumput mutiara pada taraf 0,6% (M3) menghasilkan bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif yang paling tinggi, padahal bobot potong pada perlakuan ini relatif rendah. Berdasarkan hasil ini terdapat indikasi bahwa penurunan bobot potong pada ayam yang diberi rumput mutiara pada taraf 0,6% (M3) bukan disebabkan oleh penurunan bobot karkas, tetapi lebih disebabkan oleh penurunan bobot komponen-komponen non karkas. Sebagaimana diketahui bahwa karkas merupakan bobot tubuh ayam setelah dkurangi dengan darah, bulu, organ tubuh bagian dalam (jeroan) kecuali ginjal dan paru paru, kepala dan kaki. Menurut Rose (1997), bahwa bagian non karkas, termasuk jeroan pada umumnya akan meningkat seiring dengan meningkatnya bobot badan.

Secara teoritis, bobot potong akan berbanding lurus dengan bobot karkas yang dihasilkan. Semakin tinggi bobot potong maka akan semakin berat bobot karkas yang dihasilkan dan sebaliknya. Namun hasil penelitian ini menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana bobot potong yang rendah pada perlakuan M3 justru menghasilkan bobot karkas yang paling tinggi. Tingginya bobot karkas pada perlakuan M3 erat kaitannya dengan tingginya konsumsi ransum pada perlakuan tersebut. Hal ini berarti bahwa peningkatan konsumsi ransum pada perlakuan M3 lebih banyak digunakan untuk menunjang pertumbuhan karkas dibanding dengan non karkas.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini terdapat indikasi bahwa senyawa aktif dalam rumput mutiara selain berperan dalam meningkatkan efisiensi pencernaan dan penyerapan zat makanan juga berperan dalam meningkatkan aktivitas metabolisme, dalam hal ini adalah sintesis komponen karkas dan bukan komponen non karkas. Seperti yang dilaporkan oleh Nurhayati (2006) bahwa rumput mutiara mengandung senyawa aktif sebagai agen anti mikroba. Dengan demikian suplementasi rumput mutiara diduga dapat menghambat perkembangan mikroba patogen di dalam saluran pencernaan sehingga penggunaan dan penyerapan zat makanan dapat diperbaiki. Menurut Anonimous (2004), bahwa rumput mutiara mengandung sterol, falvonoid, tannin dan kumarin yang turut berperan dalam proses pencernaan dan penyerapan zat makanan (Naim, 2004). Demikian pula menurut Jamroz and Kamel (2002) bahwa peningkatan penampilan ternak dapat terjadi karena adanya efek sinergis dari senyawa aktif yang terkandung didalam tanaman obat tersebut terutama minyak esensial yang terkandung didalamnya yang dapat memperbaiki kecernaan zat makanan seperti protein, selulosa dan lemak dan kecernaan semu zat makanan didalam seluruh saluran pencernaan dan ileum (Hernandez et al., 2004).

Kesimpulan dan saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi rumput mutiara kedalam ransum ayam broiler dapat dilakukan sampai taraf 0,8% namun untuk mendapatkan bobot karkas tertinggi, suplementasi pada taraf 0,6% dapat direkomendasikan

Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan potensi rumput mutiara sebagai pemacu pertumbuhan unggas untuk menggantikan antibiotik dalam ransum serta mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya.

Daftar Pustaka

Anonimous. 2004. Rumput mutiara mengaktifkan sirkulasi darah. Republika 14 September 2004.

Anonimous. 2005. Tanaman obat Indonesia. Leaflet BPPT, Jakarta.

Hargono, J. 1996. Efek samping obat dari bahan alam lebih kecil daripada efek samping obat kimia murni. Cermin Dunia Farmasi 28: 9 – 12.

Hernandez, F., J. Madrid, V. Garcia, J. Orengo and M.D. Megias. 2004. Influence of Two Plant Extract on Broiler Performance, Digestibility and Digestive Organ Size. Poult. Sci. 83: 169 – 174.

Istiana. 1997. Resistensi Salmonella spp isolat itik Alabio terhadap beberapa antibiotik. Journal Ilmu Ternak dan veteriner. Vol 3.No 2. hal. 106-110. Pusat penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

Ivanov, I.E. 2003. A Balancing act – optimising the gut microflora. Poultry International, June 2003. 33-37..

Jamroz, D. and C. Kamel. 2002. Plant Extracts Enhance Broiler Performance. In Non Ruminant Nutrition: Antimicrobial Agents and Plant Extracts on Immunity, Health and Performance. J. Anim. Sci. 80 (E. Suppl. I), pp. 41.

Larbier, M. and B. Leclercq. 1994. Nutrition and Feeding of Poultry. University Press. Nottingham.

Naim, R. 2004. Senyawa antimikroba dari tanaman. Kompas edisi 15 September 2004.

NRC (National Research Council). 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National Academy of Science Washington.

Nurhayati, Madyawati Latief dan H. Handoko, 2006. Uji anti mikroba rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) terhadap beberapa mikroba penyebab utama penyakit pada ternak unggas (Antimicrobial test of pearl grass (Hedyotis corymbosa) on several microbes cause main diseases in poultry). Laporan Penelitian Fundamental. Dibiayai oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional dengan Surat Perjanjian Nomor 007/SP3/PP/DP2M/II/2006 Tanggal 1 Pebruari 2006.

Rose, S. P. 1997 Princuples of Poultry Science. CAB International.

Rusiana dan D.N. Iswarawanti. 2004. 85 % Daging ayam broiler mengandung antibiotik. Tabloid Senior No. 236/ Edisi 23 – 29 Januari 2004.

Steel, R.G.D. dan Torrie, J.H. 1980. Principle and procedures of statistics a biometrical approach (2nd Ed.) Mc. Grow-Hill book Company. Singapore.

Sudarsono. 1999. Asperulosid, senyawa iridoid Hedyotis corymbosa (L.)Lamk. (Oldenlandia corymbosa linn.), suku rubiaceae. Indonesian Journal of Pharmacy 10 (3).

Tidak ada komentar: