Ella Hendalia, Mairizal, Nurhayati, Resmi, Nelwida *
Abstrak
Serangkaian penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dalam fermentasi lumpur sawit terhadap nilai nutrisi produk fermentasi serta melihat pengaruh penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi tersebut terhadap performans ayam pedaging.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Pada tahap pertama dilakukan percobaan fermentasi lumpur sawit dengan menggunakan 2 jenis kapang (Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp), masing-masing terdiri atas 5 taraf (0,5%, 1,0%, 1,5%, 2% dan 2,5%) dengan 4 ulangan. Pada tahap ke dua dilakukan feeding trial terhadap 200 ekor DOC galur MB-202 P dengan menggunakan 2 macam ransum yaitu ransum yang mengandung Lumpur Sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum (LST) dan ransum yang mengandung Lumpur Sawit hasil fermentasi dengan Rhizopus sp (LSR), masing-masing terdiri atas 4 taraf (0%, 5%, 10% dan 15%) dengan 5 ulangan. Peubah yang diamati pada percobaan tahap pertama adalah komposisi zat makanan produk fermentasi yang meliputi kandungan protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan abu. Peubah yang diamati pada tahap kedua adalah performan ayam pedaging yang meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dengan menggunakan Trichoderma harzianum dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 7,65% sampai dengan 9,42%, penurunan kandungan lemak antara 1,47% sampai dengan 4,18%, penurunan kandungan serat kasar antara 6,41% sampai dengan 8,86% dan penurunan kandungan abu antara 3,09% sampai dengan 4,57%. Fermentasi dengan menggunakan Rhyzopus sp dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 5,01% sampai dengan 16,25%, penurunan kandungan lemak antara 1,95% sampai dengan 3,24%, penurunan kandungan abu antara 0,75% sampai dengan 4,55%, namun pada kandungan serat kasar terjadi peningkatan antara 0,44% sampai dengan 4,95%. Penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan, bobot potong dan konversi ransum, namun tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif. Taraf penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dan interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua peubah yang diamati.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lumpur sawit dapat ditingkatkan nilai nutrisinya melalui fermentasi dengan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp. Lumpur sawit hasil fermentasi dapat digunakan sampai taraf 15% dalam ransum ayam broiler. Penggunaan LST akan menghasilkan performan yang lebih baik dibandingkan dengan LSR.
Kata kunci: Fermentasi, lumpur sawit , ayam broiler, Trichoderma harzianum,
Rhizopus sp
Abstract
Increasing The Nutritive Value of Palm Sludge by The Fermentation with Trichoderma harzianum and Rhizopus sp and The Use of the Fermented product in Broiler Diets
A series of experiments were conducted to evaluate the effect of using Trichoderma harzianum and Rhizopus sp in fermentation of palm sludge on the nutritive value of fermented product and to observe the effect of using the fermented product on the performance of broiler chickens. The experiments were conducted at the Laboratory of Feed and Nutrition and the farm of Faculty of Animal Husbandry, the
The experiment design was factorial in Completely Randomized Design. In the first experiment was fermentation of palm sludge by using two kinds of fungi (Trichoderma harzianum and Rhizopus sp) in 5 levels (0,5%, 1,0%, 1,5%, 2% and 2,5%) and 4 replication. The second experiment was feeding trial with two kind of diets consisting of fermented palm sludge with Trichoderma harzianum (PST) and fermented palm sludge with Rhizopus sp (PSR) in 4 levels (0%, 5%, 10% and 15%) and 5 replications fed to 200 DOC strain MB-202 P. The variables observed at the first experiment were the nutrients content of the fermented product; consisting of crude protein, ether extract, crude fibre and ash. In the second experiment variables observed were feed intake, body weight gain, feed conversion ratio, slaughter weight, absolute carcass weight and relative carcass weight.
The result of the experiment showed that the fermentation of palm sludge with Trichoderma harzianum increased of crude protein between 7.65% to 9.42%, decreased ether extract between 1.47% to 4.18%, decreased crude fibre between 6.41% to 8.86%, decreased ash between 3.09% to 4.57%. Fermentation of palm sludge with Rhizopus sp, increased crude protein between 5.01% to 16.25%, decreased ether extract between 1.95% to 3.24%, decreased ash 0.75% to 4.55%, but increased crude fibre between 0.44% to 4.95%. The use of fermented palm sludge had significant effect (P<0,05) on average body gain, feed conversion ratio, and slaughter weight, but had not significant effect on feed intake, absolute carcass weight and relative carcass weight. There was not significant effect (P>0.05) of the levels of fermented palm sludge and their interaction on the variables observed.
Based on the experiment, it was concluded that the fermentation of palm sludge with Trichoderma harzianum and Rhizopus sp increased nutritive value of fermented product. The fermented palm sludge could be used up to 15% in the broiler diets, however the use of PST had a better performance than the use of PSR.
Key words: Fermentation, palm sludge, broiler chicken,Trichoderma harzianum,
Rhizopus sp
Pendahuluan
Lumpur sawit (palm sludge) merupakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), yang memungkinkan untuk dioptimalkan pemanfaatannya sebagai bahan pakan penyusun ransum unggas. Hingga saat ini lumpur sawit yang dihasilkan oleh kebanyakan pabrik pengolahan kelapa sawit di Propinsi Jambi masih belum dimanfaatkan secara optimal sehingga terbuang begitu saja di kolam penampungan. Padahal, lumpur sawit memiliki potensi yang cukup besar untuk digunakan sebagai pakan ternak karena lumpur sawit memiliki komposisi nutrisi yang setara dengan dedak padi. Lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3 %, lemak kasar 18,9 %, serat kasar 16,3 %, abu 12 % dan BETN 39,6 % (Widyawati, 1991).
Luas areal pertanaman kelapa sawit di Propinsi Jambi pada tahun 2005 mencapai 392.877 ha, dengan produksi tandan buah segar sebanyak 833.633 ton. Dengan asumsi bahwa produksi limbah lumpur sawit sebanyak 2% dari tandan buah segar (Sutardi 1991), maka dapat diperkirakan bahwa produksi lumpur sawit di Propinsi Jambi mencapai 16.672,66 ton/tahun (Dinas Perkebunan Propinsi Jambi, 2005).
Walaupun lumpur sawit memiliki komposisi nutrisi yang cukup memadai untuk digunakan sebagai pakan ternak unggas, namun dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa pakan ini hanya dapat digunakan dalam ransum ayam broiler sebanyak 5% (Sinurat dkk. 2000). Terbatasnya penggunaan lumpur sawit sebagai pakan unggas disebabkan oleh kandungan mineral, lemak dan serat kasarnya yang tinggi. Agar lumpur sawit dapat digunakan dalam porsi yang lebih besar di dalam ransum, perlu adanya sentuhan teknologi guna meningkatkan nilai gizi pakan tersebut. .
Lumpur sawit dapat ditingkatkan nilai gizinya melalui proses fermentasi (Bintang dkk 2000). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Balitnak Ciawi diketahui bahwa proses fermentasi dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan nilai gizi lumpur sawit, namun produk hasil fermentasi tersebut dalam aplikasinya hanya efektif digunakan sampai taraf 10% dalam ransum (Sinurat dkk. 2001). Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan nilai guna lumpur sawit perlu dicari jenis inokulan lain yang sesuai dan mampu menghasilkan pakan ternak berkualitas, khususnya bagi ayam pedaging.
Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa fermentasi dengan Trichoderma dan Rhizopus sp dapat meningkatkan nilai gizi bahan, yang tercermin dari peningkatan kandungan protein kasar dan penurunan serat kasar produk fermentasi.
Diantara berbagai spesies Trichoderma terdapat kemiripan satu dengan yang lain akan tetapi Trichoderma harzianum merupakan spesies yang terbaik dalam merombak selulosa jika dibandingkan dengan spesies lainnya seperti T. viride, T. ressei, T. koningii dan T. glaukum (Rifai, 1969; Chalal 1985 dan Well, 1986; ). Fati (1997) melaporkan bahwa fermentasi dedak padi dengan kapang Trichoderma harzianum mampu meningkatkan protein kasar dari 8, 74 % menjadi 14,66 % dan menurunkan serat kasar dari 18,90 % menjadi 12,81 %. Demikian pula Rhizopus sp merupakan jenis kapang yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan biokimia yang meliputi kenaikan kadar bahan padat terlarut, kenaikan kadar abu, kenaikan kadar asam amino bebas, berkurangnya zat anti gizi dan penurunan serat kasar serta berkurangnya lemak (Kasimdjo, 1989 dalam Erlinawati, 1997). Anisa (1996) melaporkan bahwa fermentasi kulit buah kopi dengan kapang tempe mampu menurunkan kandungan serat kasar dari 29,79 % menjadi 9,92 %. Sedangkan Ernawati (2004) melaporkan bahwa fermentasi bungkil kelapa dengan kapang tempe dapat menurunkan serat kasar bahan dari 21,68 % menjadi 11,39 % serta menurunkan lemak kasar dari 10,69 % menajadi 2,73 %.
Melihat potensi Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dalam meningkatkan kualitas nutrisi dari beberapa limbah, perlu kiranya dilakukan penelitian untuk mengetahui kemungkinan penggunaan kedua inokulum tersebut dalam meningkatkan kualitas lumpur sawit serta melihat efek penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dalam ransum unggas, khususnya ayam broiler. Melalui fermentasi dengan menggunakan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp diharapkan nilai nutrisi lumpur sawit dapat ditingkatkan sehingga limbah ini dapat digunakan dalam ransum unggas dalam porsi yang lebih besar.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, masing-masing menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Pada tahap pertama dilakukan percobaan fermentasi lumpur sawit dengan menggunakan 2 jenis kapang (Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp), masing-masing terdiri atas 5 taraf (0,5%, 1,0%, 1,5%, 2% dan 2,5%) dengan 4 ulangan. Proses fermentasi dengan Trichoderma harzianum dilakukan menurut petunjuk Fati (1997), sedangkan fermentsi dengan Rhizopus sp dilakukan berdasarkan pedoman dari Sarwono (2002) yang dimodifikasi sesuai kebutuhan
Pada tahap ke dua dilakukan feeding trial selama empat minggu terhadap 200 ekor DOC galur MB-202 P dengan menggunakan 2 macam ransum yaitu ransum yang mengandung Lumpur Sawit hasil fermentasi dengan 1,5% Trichoderma harzianum (LST) dan ransum yang mengandung Lumpur Sawit hasil fermentasi dengan 2% Rhizopus sp (LSR), masing-masing terdiri atas 4 taraf (0%, 5%, 10% dan 15%) dengan 5 ulangan. Ransum disusun berdasarkan kebutuhan ayam broiler (NRC, 1994). Peubah yang diamati pada percobaan tahap pertama adalah komposisi zat makanan produk fermentasi yang meliputi kandungan protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan abu. Peubah yang diamati pada tahap kedua adalah performan ayam pedaging yang meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif. Data yang diperoleh diolah dengan program excel dan SPSS 11.0.
Hasil dan Pembahasan
Pengaruh Jenis dan Taraf Penggunaan Kapang terhadap Perubahan Komposisi Zat Makanan Lumpur Sawit Hasil Fermentasi
Komposisi zat makanan lumpur sawit hasil fermentasi dengan berbagai taraf Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Zat Makanan Lumpur Sawit Hasil Fermentasi
| | | Zat makanan (% BK) | |||
| Jenis kapang | Taraf kapang (%) | Protein kasar | Lemak kasar | Serat kasar | ABU |
| Trichoderma | 0 | 19.84 | 7.65 | 13.63 | 46.66 |
| | 0,5 | 27.65 | 6.23 | 5,31 | 42.72 |
| | 1,0 | 28.48 | 4.02 | 7,17 | 43.45 |
| | 1,5 | 27.49 | 3.86 | 6,46 | 43.50 |
| | 2,0 | 27.46 | 3.80 | 4,74 | 41.84 |
| | 2,5 | 29.26 | 4.80 | 7,19 | 41.85 |
| Rhyzopus sp | 0 | 18.63 | 7.85 | 9,93 | 47.32 |
| | 0,5 | 23.64 | 5.96 | 10,58 | 46.57 |
| | 1,0 | 24.55 | 5.40 | 11,00 | 42.89 |
| | 1,5 | 29.35 | 5.09 | 13,85 | 44.81 |
| | 2,0 | 34.88 | 5.43 | 10,37 | 43.14 |
| | 2,5 | 24.81 | 4.74 | 14,88 | 42.77 |
Data pada Tabel 1. menunjukkan bahwa fermentasi lumpur sawit dengan berbagai taraf Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dapat mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi zat makanan pada lumpur sawit hasil fermentasi.
Data komposisi zat makanan di atas tidak di analisis secara statistik karena analisa proksimat hanya dilakukan terhadap sample yang diambil secara komposit dari 4 ulangan.
Dari data yang tercantum pada Tabel 1. dapat diamati bahwa fermentasi dengan Trichoderma harzianum secara umum dapat meningkatkan kualitas lumpur sawit yang tercermin dari peningkatan kandungan protein kasar serta penurunan kandungan lemak kasar, serat kasar dan abu Sementara itu fermentasi dengan Rhyzopus sp hanya dapat meningkatkan kandungan protein kasar serta menurunkan kandungan lemak kasar dan abu, tetapi tidak mampu menurunkan kandungan serat kasar. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi dengan menggunakan Trichoderma harzianum dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 7,65% sampai dengan 9,42%, penurunan kandungan lemak antara 1,47% sampai dengan 4,18%, penurunan kandungan serat kasar antara 6,41% sampai dengan 8,86% dan penurunan kandungan abu antara 3,09% sampai dengan 4,57%. Fermentasi dengan menggunakan Rhyzopus sp dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 5,01% sampai dengan 16,25%, penurunan kandungan lemak antara 1,95% sampai dengan 3,24%, penurunan kandungan abu antara 0,75% sampai dengan 4,55%, namun pada kandungan serat kasar terjadi peningkatan antara 0,44% sampai dengan 4,95%. Taraf penggunaan kapang terlihat menghasilkan perubahan komposisi zat makanan secara tidak konsisten. Hal ini diduga dipengaruhi oleh kehomogenan pertumbuhan kapang pada media fermentasi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil yang dilaporkan oleh Fati (1997), bahwa fermentasi dedak padi dengan kapang Trichoderma harzianum mampu meningkatkan kandungan protein dari 8, 74 % menjadi 14,66 % dan menurunkan serat kasar dari 18,90 % menjadi 12,81 %. Demikian pula hasil yang dilaporkan oleh Mahmilia (1997), bahwa penggunaan 7 % inokulum Trichoderma harzianum dalam fermentasi eceng gondok dapat menurunkan kandungan serat kasar sampai 19,36 %. Tami dkk. (1997) melaporkan bahwa penggunaan Trichoderma harzianum dalam fermentasi ampas tahu dapat memperbaiki nilai gizi yang ditandai dengan menurunnya kandungan serat kasar dari 21, 67 % menjadi 14, 24 %, meningkatnya kandungan protein dari 24,48 % menjadi 32, 65 % serta dapat meningkatkan performans ayam pedaging jantan. Darlis (1990) melaporkan bahwa fermentasi pod coklat dengan enzim yang diekstrak dari kapang Trichoderma viride dapat meningkatkan kandungan protein sebesar 21,14 % dan penurunan serat kasar 22,89 % .
Fermentasi dengan Rhyzopus sp hanya dapat meningkatkan kandungan protein kasar serta menurunkan kandungan lemak kasar dan abu, tetapi tidak mampu menurunkan kandungan serat kasar. Hasil ini sedikit berbeda dengan yang dikemukakan oleh Kasimdjo dalam Erlinawati (1997) bahwa proses fermentasi dengan Rhizopus sp dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan kadar abu, kenaikan kadar asam amino bebas, serta penurunan serat kasar dan lemak. Demikian pula hasil penelitian Anisa (1996) menunjukkan bahwa fermentasi kulit buah kopi dengan Rhizopus sp mampu menurunkan kandungan serat kasar dari 29,79 % menjadi 9,92 %. Sedangkan Ernawati (2004) melaporkan bahwa fermentasi bungkil kelapa dengan Rhizopus sp dapat menurunkan serat kasar dari 21,68 % menjadi 11,39 % serta menurunkan lemak kasar dari 10,69 % menajadi 2,73 %.
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp memiliki peranan yang sangat berarti untuk meningkatkan kualitas lumpur sawit, terutama untuk meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan lemak kasar, namun untuk menurunkan kandungan serat kasar, penggunaan Trichoderma harzianum akan lebih efektif dibandingkan dengan Rhizopus sp. Trichoderma spp. memiliki kemampuan untuk menghasilkan berbagai enzim ekstraseluler, khususnya selulase yang dapat mendegradasi polisakarida kompleks (Harman, 2006). Menurut Rosales dan New (1985), Trichoderma harzianum merupakan spesies yang mempunyai kemampuan merombak selulosa terbaik jika dibandingkan dengan spesies lain. Sementara itu Rhizopus sp mempunyai kemampuan menghasilkan enzim amilase, protease dan lipase (Maryamah dalam Erlinawati 1997). Rhizopus sp menghasilkan enzim lipase yang memecahkan lemak dalam pakan menjadi asam-asam lemak dan gliserol (Arbianto, 1977).
Pengaruh Penggunaan Lumpur Sawit Hasil Fermentasi terhadap Konsumsi, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Ransum
Percobaan ini merupakan aplikasi dari penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum (LST) dan Rhizopus sp (LSR) dalam ransum yang diberikan kepada ayam broiler selama 4 minggu. Pada percobaan ini LST dan LSR yang digunakan masing-masing adalah hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum 1,5% dan Rhizopus sp 2%.
Data rataan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan (PBB) dan konversi ransum dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel. 2. Rataan Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Konversi Ransum
| Lumpur sawit hasil fermentasi | Taraf penggunaan | Peubah yang diamati | ||
| Konsumsi (gr/ekor/mg) | PBB (gr/ekor/mg) | Konversi Ransum | ||
| Trichoderma | 0% | 269,31 | 123,88 | 2,20 |
| (LST) | 5% | 298,93 | 129,95 | 2,32 |
| | 10% | 287,25 | 115,87 | 2,49 |
| | 15% | 279,96 | 107,35 | 2,62 |
| | Rataan | 283,86 | 119,26a | 2,41 a |
| Rhyzopus sp | 0% | 287,80 | 109,93 | 2,64 |
| (LSR) | 5% | 269,78 | 103,68 | 2,60 |
| | 10% | 294,48 | 115,07 | 2,57 |
| | 15% | 276,82 | 105,99 | 2,63 |
| | Rataan | 282,22 | 108,67 b | 2.61 b |
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum (LST) dan Rhizopus sp (LSR) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rataan konsumsi ransum (P>0,05), namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Taraf penggunaan lumpur sawit dan interaksi antara kedua faktor tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap peubah yang diamati.
Berdasarkan data pada Tabel 2 terlihat bahwa penggunaan LST menghasilkan rataan konsumsi ransum yang relatif sama dibandingkan dengan LSR, namun penggunaan LST akan menghasilkan rataan pertambahan bobot badan yang nyata lebih tinggi dan konversi ransum yang nyata lebih rendah dibandingkan dengan LSR (P<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa lumpur sawit yang difermentasi dengan Trichoderma harzianum memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan lumpur sawit yang difermentasi dengan Rhizopus sp. Lebih tingginya kualitas LST dibandingkan dengan LSR erat kaitannya dengan enzim selulase yang dihasilkan oleh Trichoderma harzianum. Enzim selulase dapat mendegradasi polisakarida kompleks sehingga dapat meningkatkan kecernaan hemiselulosa dari berbagai tanaman (Harman, 2006). Dengan meningkatnya kecernaan polisakarida kompleks, maka penyerapan zat makanan akan lebih baik sehingga penggunaan zat makanan untuk pertumbuhan akan meningkat yang tercermin dari nilai konversi ransum yang lebih rendah. Menurut Harman, (2006), bahwa Trichoderma spp juga dapat digunakan dalam ransum untuk meningkatkan kecernaan hemiselulosa dari berbagai tanaman (Harman, 2006).
Taraf penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Tidak berpengaruhnya taraf penggunaan LST dan LSR terhadap peubah yang diamati disebabkan karena peningkatan taraf penggunaan LST dan LSR sampai 15% tidak menimbulkan perubahan komposisi zat makanan yang berarti di dalam ransum perlakuan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lumpur sawit yang difermentasi dengan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dapat digunakan sampai taraf 15% tanpa memberikan dampak negatif terhadap performan ayam broiler. Lumpur sawit hasil fermentasi ini juga terlihat disukai oleh ternak. Menurut Sinurat dkk., (2000) batas penggunaan lumpur sawit yang disarankan untuk ayam broiler adalah 5%, sedangkan menurut Yeong dan Azizah 1987 dalam Sinurat (2001) lumpur sawit dapat digunakan sampai 15%. Selanjutnya dijelaskan oleh Sinurat (2001) bahwa batas pemberian lumpur sawit dalam ransum unggas sangat bervariasi tergantung dari proses dalam menghasilkannya dan jenis ternak yang mengkonsumsi.
Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot Karkas Mutlak dan Bobot Karkas Relatif
Data Rataan bobot potong, bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan Bobot Potong, Bobot Karkas Mutlak dan Bobot Karkas relatif
| Lumpur sawit hasil fermentasi | Taraf penggunaan | Peubah yang diamati | ||
| Bobot Potong (gr/ekor) | Bobot Karkas Mutlak (gr/ekor) | Bobot Karkas relatif (%) | ||
| Trichoderma | 0% | 508,40 | 321,80 | 62,78 |
| (LST) | 5% | 552,40 | 364,00 | 65,67 |
| | 10% | 505,60 | 327,40 | 64,71 |
| | 15% | 447,80 | 279,80 | 62,27 |
| | Rataan | 503,55 a | 323,25 | 63,86 |
| Rhyzopus sp | 0% | 458,00 | 306,20 | 66,44 |
| (LSR) | 5% | 457,80 | 287,80 | 62,74 |
| | 10% | 507,20 | 316,40 | 62,08 |
| | 15% | 432,20 | 266,20 | 61,54 |
| | Rataan | 435,02 b | 294,15 | 63,20 |
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum (LST) dan Rhizopus sp (LSR) memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot potong (P<0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot karkas mutlak dan bobot karkas relatif (P>0,05). Taraf penggunaan lumpur sawit dan interaksi antara kedua faktor tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah yang diamati.
Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa penggunaan LST akan menghasilkan bobot potong yang nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan penggunaan LSR. Lebih tingginya bobot potong pada penggunaan LST sejalan dengan tingginya pertambahan bobot badan yang dihasilkan pada perlakuan tersebut. Ransum yang mengandung LST diduga memiliki kecernaan zat makanan yang lebih tinggi akibat adanya peran dari enzim selulase yang dihasilkan oleh kapang Trichoderma harzianum (Harman,2006). Dengan lebih tinggi nya kecernaan zat makanan maka akan lebih banyak zat makanan yang diserap dan digunakan untuk pertumbuhan.
Bobot karkas yang dihasilkan pada penggunaan LST lebih tinggi dibandingkan dengan pada penggunaan LSR, namun nilai tersebut tersebut secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Bobot karkas yang dihasilkan pada penggunaan LST sejalan dengan lebih tingginya bobot potong pada perlakuan tersebut. Kondisi ini menggambarkan bahwa pertumbuhan ayam pada masing-masing perlakuan terjadi secara normal dan proporsional antara komponen karkas dan non karkas. Seperti yang dikemukakan oleh Rose (1997), bahwa bagian non karkas, termasuk jeroan pada umumnya akan meningkat seiring dengan dengan meningkatnya bobot badan. Pertumbuhan komponen karkas yang sebanding dengan pertumbuhan non karkas akan menghasilkan persentase karkas (bobot karkas relatif) yang sama seperti yang dihasilkan pada penelitian ini.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Lumpur sawit dapat ditingkatkan nilai nutrisinya melalui fermentasi dengan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp. Fermentasi dengan menggunakan Trichoderma harzianum dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 7,65% sampai dengan 9,42%, penurunan kandungan lemak antara 1,47% sampai dengan 4,18%, penurunan kandungan serat kasar antara 6,41% sampai dengan 8,86% dan penurunan kandungan abu antara 3,09% sampai dengan 4,57%. Fermentasi dengan menggunakan Rhyzopus sp dapat meningkatkan kandungan protein kasar antara 5,01% sampai dengan 16,25%, penurunan kandungan lemak antara 1,95% sampai dengan 3,24%, penurunan kandungan abu antara 0,75% sampai dengan 4,55%, namun pada kandungan serat kasar terjadi peningkatan antara 0,44% sampai dengan 4,95%.
2. Penggunaan lumpur sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum akan menghasilkan performan ayam broiler yang lebih baik debandingkan dengan lumpur sawit hasil fermentasi dengan Rhizopus sp..
3. Lumpur sawit hasil fermentasi dengan Trichoderma harzianum dan Rhizopus sp dapat digunakan dalam ransum ayam pedaging sampai taraf 15%.
Daftar Pustaka
Anisa. 1996. Pengaruh pemberian kulit buah kopi yang difermentasi dengan kapang
Anonimous, 2006. Statistik Perkebunan Propinsi Jambi. 2005. Dinas Perkebunan. Jambi.
Arbianto, R. 1987. Fermentasi bungkil kedelai dengan probiotik u tuk meningkatkan kualitas pakan. Seminar Nasional dan Sains Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi –
Bintang , L. A. K., A. P. Sinurat, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2000. Nilai gizi lumpur kelapa sawit hasil fermentasi pada berbagai proses inkubasi. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5 (1) : 7-11
Chalal, D.S. 1983. Solid state fermentation with Tricodherma reesei for cellulase production. Appl. Environ. Microbial, 49 p 205-210.
Darlis. 1990. Produksi enzim selulase dan biomassa untuk pakan ternak dari biokonversi pod coklat oleh Trichoderma viride. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan.
Erlinawati, 1997. Pengaruh penggantian sebagian ransum komersil dengan kulit nenas fermentasi menggunakan Aspergillus niger dan kapang tempe terhadap retensi bahan kering, bahan organik dan protein kasar ransum ayam broiler. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas jambi. Jambi.
Ernawati , N. 2004. Pengaruh penggantian bungkil kelapa dengan bungkil kelapa hasil fermentasi dengan ragi tempe dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan ayam pedaging jantan. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.
Harman, G. E. 2006. Trichoderma spp., including T. harzianum, T. viride, T.koningii, T.hamatum and other spp. Deuteromycetes, Moniliales ( asexualclassificationsystem ). http://www.nysaes.cornell.edu/ent/biocontrol / pathogens/trichoderma.html
Fati, N. 1997. Pengaruh penggunaan dedak padi yang difermentasi dengan galur Trichoderma terseleksi terhadap performans ayam broiler. Program Pascasarjana Univ. Andalas Padang.
Kasimdjo, R.B. 1989. Mikrobiologi dan Biokimia Pengolahan dan Pemanfaatannya. PAU Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada,
National Research Council. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National
Rifai, M.A. 1969. A revition of fhe genus Trichoderma. Micrologycal Paper No 116, 56p.
Rosales, A.M. and T.W. New. 1985. Decomposition of rice straw by four sspecies of Trichoderma in natural soil. IRRI, Manila Philipines.
Rose, S. P. 1997 Princuples of Poultry Science. CAB International.
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, P. Ketaren, D. Zainuddin dan I.P. Kompiang. 2000. Pemanfaatan Lumpur sawit untuk ransom unggas : 1. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan ayam broiler. J. Ilmu Ternak Vet. 5 (2) : 107-112.
Sinurat, A.P., I. A. Bintang, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2001. Pemanfaatan lumpur sawit untuk ransum unggas : 2. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan itik jantan yang sedang tumbuh. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6 (1) : 28-33
Sutardi, T., 1991. Pemanfaatan limbah perkebunan sebagai pakan ternak ruminansia.
Makalah Seminar. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak dipublikasikan)
Tami, D. S, A. Latief dan J. Rahman. 1997. Penggunaan Trichoderma harzianum dalam fermentasi ampas tahu dan pemanfaatannya dalam ransum ayam pedaging. Prosiding Seminar Ilmu-ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB Bogor.
Well, H.D. 1986. Trichoderma as Biocontrol Agent. In. K.G. Mukerji and K.L. Garg (ed) Biocontrol of Plant Disease. CRC Pres Inc,
Widyawati, S.D., 1991. Penggunaan lumpur sawit kering dalam ransum sapi perah

0 komentar:
Poskan Komentar