Tidak dapat dipungkiri bahwa kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini sangatlah bergantung pada ternak. Daging, susu dan telur sebagai sumber protein hewani sangat menentukan kecerdasan dan kecukupan gizi manusia. Bulu, kulit, tulang, tanduk, tenaga kerja bahkan kotoran ternak sekalipun sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seorang filosof Arab mengemukakan “ A land poor in livestock is never rich, and a land rich in livestock is never poor” (lahan yang miskin akan ternak tidak akan pernah kaya, dan lahan yang kaya akan ternak tidak akan pernah miskin). Selain itu satu hal penting yang tidak boleh terlupakan, yaitu ternak dapat menjadi obyek hiburan dan pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Berbagai manfaat ternak telah dijelaskan di dalam Al Qur’an, diantaranya
Sungguhpun begitu besar manfaat yang dapat dipetik manusia dari ternak tetapi di negara kita dunia peternakan sering dipandang sebelah mata. Peternak hanya dianggap sebagai tukang gembala sapi atau itik sehingga tidak menarik bagi generasi muda yang telah silau dengan dunia elektronika dan mesin. Padahal tanpa kita sadari begitu besar uang kita yang telah disedot oleh negara lain untuk mengimpor berbagai produk peternakan. Bayangkan saja pada tahun 2002 jumlah sapi yang kita impor sebanyak 275.000 ekor,, bahkan tahun-tahun sebelumnya mencapai 400.000 ekor per-tahun. Belum lagi jutaan dollar yang harus dibayar sebagai royalti bibit ayam ras petelur dan pedaging yang kesemuanya kita dapat dari negara lain. Menurut data Deperindag tahun 2000 jumlah devisa yang dihabiskan untuk mengimpor produk peternakan lebih dari 500 juta US$ (setara 5 trilyun). Ternyata “kemoderenan” masyarakat kita yang dijajah oleh berbagai produk asing yang berteknologi tinggi, juga terjadi di dalam dunia peternakannya.
Jawaban yang paling pas agar masa depan dunia peternakan kita tidak semakin terjajah oleh asing adalah membangun peternakan moderen, maju, mandiri dan berkelanjutan. Peternakan moderen adalah usaha peternakan yang memanfaatkan IPTEK secara intensif guna mencapai efisiensi usaha yang lebih tinggi. Peternakan maju, mandiri dan berkelanjutan yaitu peternakan tangguh yang dapat memberdayakan sumber daya manusia peternakan sehingga mampu membangun dan mengelola usaha peternakan yang berwawasan agribisnis. Pembangunan peternakan dapat dikatakan tangguh apabila masyarakat peternak sudah memiliki kemampuan untuk menggerakkan pembangunan peternakan secara mandiri dan berkelanjutan.
Bukanlah suatu hal yang mustahil apabila ke depan industri peternakan menjadi andalan perokonomian kita, asalkan ada niat dan komitmen pemerintah untuk menuju kesana. Untuk itu pembangunan peternakan harus dilaksanakan secara konsisten dengan upaya membangun sistem dan usaha agribisnis. Pola pandang ini kelihatannya terlalu klasik dan retorik sehingga sering dianggap remeh oleh berbagai pihak. Tetapi jika kita ingin membangun peternakan tangguh maka prinsip dasar diatas perlu dipegang secara konsisten. Pembangunan sistem agribisnis peternakan merupakan suatu pendekatan yang melihat pembangunan peternakan sebagai suatu rangkaian sub sistem yang saling terkait dari hulu, budidaya sampai ke hilir serta sub sistem penunjang lainnya. Sedangkan usaha agribisnis merupakan suatu prasyarat agar aktivitas peternakan dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang optimal kepada para pelakunya.
Pendekatan sistem dan usaha agribinis peternakan harus menjadi fokus dalam reorientasi pembangunan peternakan kedepan. Pembangunan peternakan yang hanya tertuju pada sub sistem budidaya akan menghasilkan proses pemiskinan peternak. Fakta yang ada saat ini, peternak rakyat sebagai tulang punggung pembangunan peternakan umumnya hanya mampu menguasai subsistem agribisnis budidaya. Padahal nilai tambah yang terbesar berada pada subsistem agribisnis hulu dan pada subsistem agribisnis hilir. Kondisi inilah yang menjadikan budidaya ternak menjadi usaha yang kurang menarik, sehingga melahirkan “bottle neck” yang memperlambat laju pertumbuhan agribinis peternakan secara keseluruhannya. Agar sistem agribisnis dapat berjalan dengan lancar maka ia harus dilihat seperti aliran air.
Agar peternak memiliki akses ke dalam setiap sub sistem, maka peternak harus mempunyai posisi tawar yang tinggi terhadap subsistem agribisnis hulu dan hilir. Penguatan posisi tawar inilah yang merupakan tantangan berat yang harus kita hadapi dewasa ini mengingat berbagai keterbatasan peternak yang ada baik dalam hal pendidikan, wawasan dan terutama tradisi yang sudah mendarah daging di dalam dirinya. Upaya pembinaan sulit dilakukan akibat lokasi yang terpencar-pencar. Oleh karena itu kata kunci untuk meningkatkan posisi tawar peternak sekaligus menghilangkan “bottle neck” arus pembangunan agribisnis peternakan adalah memberdayakan SDM peternakan terdidik untuk membangun jejaring, baik antar sub sistem maupun dengan kelembagaan penunjang lainnya.
Menghadapi era perdagangan bebas maka efisiensi akan menjadi tolok ukur keberlangsungan suatu usaha. Efisiensi akan dapat dicapai apabila di dalam sistem agribisnis peternakan terbuka peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan peternak melalui terciptanya usaha-usaha mulai dari sub sistem hulu hulu sampai hilir. Pada segmen hulu diharapkan dapat tercipta bisnis pakan, bibit, obat, peralatan mesin serta pengelola permodalan. Pada segmen budi daya berkembang SDM yang mengelola bisnis penggemukan, kompos, jasa IB/ET dan jasa pelayanan kesehatan hewan. Pada segmen hilir tumbuh jasa pengolahan, RPH, uji mutu dan sertifikasi. Demikian pula di segmen pemasaran tumbuh SDM yang mengelola bisnis distribusi, transportasi, usaha retail, promosi dan sebagainya
Penerapan teknologi tepat guna akan menjadi keharusan. Selain itu para peternak juga harus mampu mengorganisir diri mereka dalam organisasi yang memiliki daya tekan (pressure power). Peternak tradisional yang masih terus bergelut dengan aktivitas peternakan sambilan tentu sulit diharapkan untuk mampu menerapkan teknologi yang berdaya saing internasional sekaligus membangun posisi tawarnya. Oleh karena itu sudah seharusnya usaha peternakan kedepan lebih terbuka bagi peternak rakyat terdidik yang memiliki bekal ilmu dan wawasan memadai.
Salah satu langkah yang dapat menjadi alternatif dalam reorientasi pembangunan peternakan moderen yang yang tangguh adalah dengan mendayagunakan generasi muda terdidik untuk terjun ke dunia peternakan.. Mereka tentunya tidak dibiarkan berusaha sendiri-sendiri, tetapi difasilitasi untuk bersatu di dalam suatu wadah secara terorganisir dalam suatu kelembagaan yang kokoh dan tersentralisir di dalam suatu kawasan. Dengan bersatu mereka dapat merencanakan serta masuk ke dalam sistem agribisnis secara bersama-sama melalui suatu kelembagaan yang kuat. Permasalahannya sekarang adalah “apakah Pemerintah ataupun pelaku bisnis lainnya mau dan memiliki komitmen untuk memfasilitasi serta memberdayakan para intelektual peternakan (khususnya pengangguran terdidik) untuk menjadi generator pembangunan agribisnis peternakan yang mampu bersaing di pasar dunia “? (ELLA HENDALIA)

0 komentar:
Poskan Komentar